Oleh: connie lianto | Desember 15, 2008

MUSEUM JAKARTA

Stadhuis jaman VOC

Stadhuis jaman VOC

Museum Jakarta terletak di bagian kota, Jakarta Barat.  Pada jaman VOC, gedung itu dikenal sebagai STADHUIS, dimana menjadi pusat pemerintahan Belanda di indonesia. Kini, masih berdiri dengan tegak menantang jaman. 

Bangunan yang bertingkat 2 menghadap ke square yang cukup luas, konon disitulah eksekusi hukum gantung dilaksanakan untuk para kriminal dan musuh VOC, yang biasanya dihadiri oleh masyarakat luas dan para petinggi VOC, menyaksikan  dari jendela balkon yang berada ditengah gedung tersebut. 

Bahan yang digunakan di gedung itu, merupakan bahan yang istimewa, kayu-kayu jati yang tebal dengan diameter sekitar 40cm menyangga bangunan itu, dipadu dengan tembok-tembok besar dan tebal, rangka pintu dan daun pintu dari kayu jati pilihan yang kualitas terbaik pula.  Papan-papan lebar, sekitar 30-40cm menghiasi lantai-lantai di bangunan itu. Di dominir dengan cat berwarna merah pada rangka dan daun pintu, juga balister tangga yang seluruhnya dari kayu jati, yang ukuran dan kualitasnya telah punah kini. 

Tangga dari kayu jati pilihan

Walaupun telah sekian abad gedung itu berdiri tegak di kota Jakarta, namun aura keangkuhan masih sangat terasa, sekalipun gedung itu telah berubah fungsi sebagai museum sejarah Jakarta, di pajang berbagai mebel peninggalan VOC, seperti lemari arsip raksasa, kursi dan meja rapat, tempat tidur, pedang, dan sebagainya. yang semuanya membuat para pengagum barang antik berdecak kagum akan bahan dan keindahannya.  Bisa dibayangkan bagaimana pada jaman itu, para penjajah negara ini hidup berkelimpahan di tengah masyarakatnya yang hidup serba kesulitan dan kekurangan. 

Lemari Arsip

Lemari Arsip

 
Juga dipamerkan jaman pra VOC, yaitu saat Portugis menguasai Indonesia, lengkap dengan batu peringatan dan miniatur kapal Portugis yang berlabuh di tanah Indonesia.  Bangunan dan koleksi yang ada di museum itu, membawa kita menerawang jauh kembali ke abad 17, jaman VOC menguasai Indonesia. Membayangkan kesibukan, kostum yang dipakai era itu, kericuhan yang terjadi saat menjelang eksekusi para kriminal di lapangan kota.  Semua itu dapat kita saksikan dalam angan dan pikiran.  Saat menyelusuri ruangan-ruangan besar dan kokoh, dengan plafon yang tinggi itu, terbersit dalam pikiranku, suatu saat dulu gedung ini menjadi yang paling ditakuti dan disegani oleh seantero Batavia dan Jawa, mungkin juga Indonesia secara keseluruhan. Dalam benak mencoba untuk menjangkau era kolonial yang terkenal dengan kekejamannya, seperti pembantaian orang Tionghoa yang korbannya mencapai lebih kurang 10.000 jiwa, keputusan-keputusan yang dilakukan di gedung ini dalam menumpas pemberontakan yang dilakukan Kapitan Sepanjang, Pangeran Samber Nyawa, siksaan yang dilakukan terhadap Ni Hu Kong, kapiten Tionghoa yang dituduh memotori pemberontakan orang Tionghoa di Batavia dan sederet peristiwa sejarah lainnya.  Membuat hati miris atas segala penderitaan yang mereka alami. 
 
Maskot VOC

Maskot VOC

Saat mengunjunginya, banyak sekalah para siswa dari berbagai SD sampai SMA yang datang mengunjungi museum tersebut.  Masing-masing dari mereka membawa sebuah catatan dan sibuk mencatat keterangan-keterangan singkat yang berada di depan objek.  Sayangnya banyak dari mereka yang tidak mengerti tentang asal usul keberadaan gedung ini dan gunanya pada saat itu.  Banyak dari mereka yang sibuk berfoto dengan teman-temannya dengan berbagai gaya dengan handphone masing-masing.  Bergantian mereka mengabadikan gambar masing-masing.  Keadaan ini dapat di mengerti karena begitu minimnya keterangan tentang sejarah gedung ini, bahkan tidak saya dapatkan sama sekali tentang keterangan apapun tentang gedung ini.  Yang banyak saya dapati adalah keterangan bahan dan era dari suatu artifaks atau mebel yang dipajang di ruangan-ruangan.  Sehingga sekilas, museum kota Jakarta seperti galeri barang-barang antik.  Andaikata di buat visualisasi kamar kerja JP. Coen sebagai salah seorang gubernur jenderal VOC yang terkenal dan fungsi masing-masing ruangan yang ada disana, pastilah para siswa yang berkunjung akan mendapatkan pengetahuan lebih dan tidak hanya sekedar berpose di depan kamera handphone mereka. 

Informasi yang sangat minim tentang gedung tersebut sangatlah saya sayangkan, karena bagi pengunjung yang tidak begitu mengerti tentang sejarah Indonesia di bawah VOC, hanyalah menjadi tempat berkunjung yang gratis dan mengagumi kemegahan gedung ini beserta segala ornamaen dan mebel yang dipajang didalamnya. 

img_9826

 

 

 

 

Ada ruangan bawah tanah yang di penuhi air yang cukup dalam, menurut saya adalah saluran air, agar tidak terjadi banjir, seperti pada umumnya gedung-gedung jaman Belanda, seperti yang terdapat di Lawang Sewu, Semarang. Gelap dan terkesan angker saat melongok kedalamnya. 

 

 

 

 

 

 

 

Plakat Peresmian gedung VOC

Plakat Peresmian gedung VOC 1707

Pedang VOC

Semoga di masa mendatang akan lebih banyak informasi tentang gedung itu, sehingga tidak hanya sekedar untuk  wisata arsitektur, tapi juga dapat menambahkan pengetahuan pada pengunjungnya.  Dalam hal tidak memungut biaya apapun di museum tersebut, membuat segala lapisan masyarakat Jakarta dan Indonesia tidak ragu mendatanginya.  Sehingga semakin hari, semakin banyak masyarakat yang mengunjunginya.

 

img_9848


Tanggapan

  1. lorong berisi air adalah penjara wanita bawah tanah

    • Terima kasih Vincent, untuk tambahan informasinya. memang sayang, kita tidak bisa mendapatkan banyak informasi tertulis di setiap ruang di museum tersebut.
      sehingga kadang terkesan hanya sebatas barang antik exhibition:)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori