Oleh: connie lianto | Desember 13, 2008

KOTA TUA JAKARTA

KOTA TUA JAKARTA

 

 

 

 

 

Pada tanggal 30 Mei 1619, Jan Pieterszoon Coen berhasil menaklukkan Jayakarta. Ia merusak kota itu, membangun benteng Belanda di atas puing-puing, serta namanya serta merta di ubah  menjadi  Batavia.  Tanggal itu pula yang dijadikan hari Ulang Tahun Jakarta, yang sampai kini telah berusia 389 tahun.

Kota uzur yang usianya  hampir mencapai empat abad, dalam era modern sekarang ini, telah  mengalami perubahan dan pengembangan, serta pertumbuhan  yang cepat dalam berbagai hal, menjadi kota yang terpadat penduduknya, polusi udara juga mencapai tingkat yang cukup tinggi dan rawan banjir saat musim hujan tiba.   Kini, kota ini telah  berubah menjadi kota metropolitandan pusat pemerintahan negara Indonesia.  

jan_pieterszoon_coen

Jan Pieterszoon Coen

valckenier

Adriaan Valckenier

 

 

 

        

 

 

 

                                                                                                                                               

 

Di jaman pemerintahan Orde Baru, banyak gedung-gedung di Jakarta, yang merupakan peninggalan pemerintah Belanda dihancurkan, untuk digantikan dengan gedung-gedung bertingkat era modern.  Penghancuran yang dilakukan oleh pemerintah saat itu tidak pernah sekalipun mempertimbangkan baik dari sisi historikal maupun sisi estetika arsitekturalnya.  Namun hanya semata-mata karena kebutuhan akan space dan bangunan  yang lebih modern untuk mendukung pembangunan Jakarta yang mulai semrawut pada saat itu.

Saat mengunjungi kota tua Jakarta di daerah kota, yang dulunya merupakan pusat pemerintahan jaman Belanda dan juga pusat perdagangan dan kompleks kantor perusahaan orang-orang Belanda.  Sisa-sisa kemegahan dan keindahan bangunan tua masih dapat dinikmati, walaupun banyak diantaranya yang sudah tidak terurus dan hampir roboh.  Belum terlihat usaha untuk melestarikan bangunan-bangunan yang telah rusak parah itu oleh pemilik maupun pemerintah daerah setempat. Di kali besar, telah diadakan pengurukan untuk mengantisipasi luapan air saat musim hujan, juga dalam proses pembangunan trotoar untuk pejalan kaki dan juga taman di pinggir kali untuk masyarakat menikmati senja. 

KOTA TUA

Menyelusuri sepanjang jalan Kali Besar sambil membayangkan kemegahan bangunan yang sekarang tidak terurus, merupakan pengalaman tersendiri di siang hari yang cukup menyengat panasnya.  Di depan rumah yang dinamakan “Toko Merah” (Saya tidak tahu mengapa dinamankan seperti itu, karena tidak tercermin bentuk bangunannya seperti toko, mungkin karena bangunan itu jendela-jendela dengan kaca kotak-kotak berjejer rapi, sehingga orang mengasumsikan seperti etalase toko), membuat pikiran menerawang jauh kebelakang, menembus batas-batas pikiran dan imaginasi ke masa lalu.  Mungkin disinilah keputusan untuk melakukan aksi pembantaian orang-orang Cina di Batavia yang merupakan pelanggaran HAM yang terbesar saat itu.  Bangunan ini menjadi saksi bisu dari keputusan yang tidak manusiawi dari Gubernur Jenderal Batavia yang ke-25 saat itu yang bernama Adriaan Valckenier, yang memerintah dari tahun 1737-1740.  Bangunan yang bersejarah itu kini hanyalah menjadi bangunan usang yang didepannya terpampang plakat menandakan bahwa bangunan ini adalah merupakan cagar budaya.  Keadaan fisik yang sama sekali tidak terawat, kaca yang pecah, di dalamnya terdapat sampah-sampah kantong plastik. 

TOKO MERAH

TOKO MERAH

TOKO MERAH keadaannya kini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peninggalan bersejarah di daerah kota yang sudah memudar dan sudah banyak yang hancur, merupakan kerugian bagi generasi mendatang dalam mengenal sejarah Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya.  Semoga para pemilik gedung-gedung tua dan juga pemerintah daerah tanggap atas situasi ini, sehingga kota tua Jakarta dapat menjadi kawasan sejarah yang asri untuk dikunjungi sebelum terlambat.  

KOTA TUA JAKARTA


Beri tanggapan

Your response:

Kategori