Kesempatan liburan kali ini terbersit rencana untuk mengunjungi makam sang proklamator, the founding father dari negara tercinta ini, Bung Karno.
Jarak dari kota Blitar ke makamnya tidaklah jauh untuk ditempuh. Parkiran mobil persis di depan pintu masuk kompleks makam. Bangunan minimalis terdiri dari museum lukisan (atau lebih pada museum foto?) disebelah kiri dan perpustakaan di sebelah kanan. Sayang, perpustakaan sudah tutup pada saat kami sampai disana. Void diantara dua bangunan itu terdapat patung Bung Karno yang besar, menghadap diagonal. Kompleks makam yang bersih dan tenang, memberikan kesan yang baik (hussle free) dalam benakku. Disalah satu sudut terpampang kertas yang bertuliskan “Mengunjungi Makam Bung Karno tidak bayar”, alias gratis. Wah… ada kesalutan pada pemerintah daerah Blitar dalam hati. Memang sudah semestinya mereka merawat makam itu, karena jasa yang disumbangkan pada negeri ini. SALUTE!
Memasuki museum lukisan yang gelap gulita, pengunjung diharuskan untuk mengisi buku tamu. Dikatakan bahwa saat itu sedang mati lampu, sehingga tidak banyak yang dapat dilihat oleh pengunjung. Sebelum memasuki makam, pengunjung diwajibkan untuk mengisi buku tamu lagi di “kantor” yang berada di sebelah kiri daripada gapura makam. Namun kali ini dengan pesan : “Sumbangan sukarela”, pesan sponsor dari personil yang mengenakan seragam serupa dengan warna seragam PEMDA pada umumnya. Terhenyak! tulisan “tidak bayar” yang terpampang di gerbang masuk utama tadi apa?!!? Ah…..tadi kan saya sudah mengatakan itu sukarela….kalau tidak berkenan ya tidak apa-apa….Mungkin seperti itu kira-kira argumentasinya apabila dikonfrontir. Karena orang yang mengisi buku tamu tidak memperhatikan tulisan “tidak bayar” maka dengan otomatis menyodorkan sejumlah uang kepada petugas tadi. Diterima dengan baik.
Kompleks makam bagian dalam dibangun model joglo yang terbuka yang pendek, lantai marmer. Batu nisan “diperkirakan” dari batu andesit yang besar, yang diambil dari gunung Kelud (demikian informasi yang diterima dari petugas disana). Makam Bung Karno di dampingi oleh makam bapak dan ibunya yang terletak di kiri dan kanannya.
Sudut joglo, ada beberapa orang yang duduk berselonjor sambil bercengkerama dan memperhatikan para pengunjung yang datang untuk berziarah. Ternyata mereka adalah yang menawarkan jasa pada pengunjung untuk foto didepan makam, dengan camera pocket digital.
Pintu masuk dan pintu keluar dibedakan, walaupun mobil diparkir di depan pintu masuk, namun diwajibkan bagi pengunjung untuk melewati pintu keluar yang berada dipenghujung dari pintu masuk. Pintu keluar terdiri dari lorong panjang di mana para penjual souvenir menawarkan dagangannya. Setelah melewati lorong itu, pengunjung digiring dengan jalan berkelok-kelok yang tiada habisnya, layaknya permainan ular tangga, kiri kanan lorong yang tiada berkesudahan itu terdapat kios-kios souvenir dari kaos sampai pada centong. Setelah perjalanan yang berkelok-kelok dibelantara souvenir, sampai juga pada jalan raya. Sudah menunggu becak-becak yang berjejer rapi dipinggir jalan, menawarkan jasanya untuk mengantar ketempat parkiran bis ataupun mobil.
Kuputuskan untuk berjalan menuju parkiran mobil, ternyata letak pintu masuk dan “pintu keluar” sangatlah jauh.
Ternyata di makam proklamator tidaklah gratis seperti yang terpampang di salah satu sudut tembok kompleks museum. Di balik makam itu sengaja diciptakan “tourist trap” yang mengharuskan para pengunjung mengitari satu putaran besar dan menggunakan transport becak untuk menuju kembali ketempat parkiran. Tourist trap yang sengaja telah diciptakan oleh penguasa setempat.
Pembelajaran “gratis” di Blitar, khususnya di makam Sang Proklamator, membuat saya teringat pada idiom yang berbunyi “don’t judge a book by its cover”. Salute yang saya berikan diawal tulisan ini, saya tarik kembali. Mengingatkan saya pada komentar seorang sahabat tentang segala urusan yang ada di Indonesia, kalau memungkinkan untuk dipersulit, mengapa harus dipermudah? Komentar ini sangat berlaku di kompleks pemakaman Sang proklamator, founding father kita yang kita kagumi.















Terima kasih atas kunjungannya ke http://www.flobamora.org hehehe

Salam… join yuk, kk?
Btw Soekarno, juga tidak bisa dipisahkan dari NTT, karena pada masa pengasingan, beliau dibuang ke Ende (kabupaten Ende). Situs Bung Karno masih berdiri tegak. Patung beliau untuk udah diresmikan di dekat pohon Sukun tempat Bung Karno merenungkan PANCASILA…
Salam manis dari Ende.
Oleh: tuteh on Desember 8, 2008
at 8:25 pm
Setuju ttg.Bung Karno. Pancasila merupakan inspirasi besar utk bangsa dan negara tercinta ini yang disumbangkan oleh beliau. Saya sempat melihat pohon sukun yang terkenal itu dari pinggir jalan dan sayangnya saat saya ke ex rumah pengasingan, sudah tutup. mungkin dilain kesempatan, saya akan mampir lagi . Salam
Oleh: connie lianto on Desember 8, 2008
at 9:47 pm
hula..halo salam kenal…enak yah bisa jalan2…mang jadi backpackers sejati itu mang gada matinya! smangat!!! Backsong keren, ada ’salju’nya (katakan kalau salah hehe), uh dinginnn. hatschiii..!
Oleh: Dicky on Desember 11, 2008
at 2:31 pm
hi Dicky, terima kasih udah mampir kesini. Saya bukan murni backpacker sih….tapi kalo bepergian dan sharing pengalaman tetap merupakan salah satu hobby.
salam,
connie
Oleh: connie lianto on Desember 13, 2008
at 6:44 pm