Oleh: connie lianto | Juni 18, 2008

Pasar Triwindu Solo

Pasar antik Triwindu menjadi salah satu keharusan untuk dikunjungi para tamu yang datang ke kota Solo, selain pasar Klewer yang terkenal dengan batiknya.  Pasar Triwindu merupakan “thrift market” yang unik, dengan menjual berbagai barang-barang kuno dan memoribilia, membawa kita kepada kehidupan pada masa lalu.

Lorong-lorong sempit, namun bersih, kios-kios yang dipenuhi berbagai macam barang kuno maupun barang-barang buatan baru memenuhi etalase dan space di setiap kios yang berada di kawasan itu.  Para pedagang duduk di “dingklik” (kursi kecil yang pendek) menanti pembeli di depan kiosnya, sambil bercerita dan bersenda gurau dengan pemilik kios yang lain. Kadang kala terdengar tawa canda, kadang pula saling menanyakan tentang penjualan pada hari itu, sembari sekali-kali menawarkan kepada tamu yang melewati kios mereka. Berburu barang-barang kuno, dari koin lama sampai pada gelas kristal di sana merupakan hal yang sungguh menyenangkan, walaupun komplek pasar tidaklah besar.

Pasar ini adalah hadiah ulang tahun yang kedua puluh empat dari GRAy. Nurul Khamaril, puteri Mangkunegoro VII. Selain nama Triwindu (Tri= tiga ; Windu= delapan), pasar ini juga di kenal dengan nama pasar Windu Jenar.Namun pasar triwindu yang terkesan unik itu, karena perpaduan antara barang antik, vintage dengan onderdil motor/mobil, juga alat-alat pertukangan dan pertanian. Mereka mempunyai blok tersendiri untuk ketiga jenis barang tersebut di atas. Pasar Triwindu termasuk salah satu aset budaya di kota Solo.

 

Namun dalam waktu yang dekat, pemerintah kota Solo merasa urgent dan perlu untuk merombak pasar tersebut secara total dengan tujuan untuk kenyamanan pengunjung.  Ada kemungkinan lorong-lorong hunting akan dihilangkan, kios-kios dari kayu juga lenyap, lantai semen akan digantikan oleh keramik modern, daun jendela lebar dari kayu yang mempunyai dwi fungsi, baik sebagai penutup jendela dan payon akan digantikan oleh plafon. Semua akan berubah. Ambience pasar antik tradisional akan segera sirna.  Suasana adem dan rindang karena payon-payon yang menjadi tudung dari sengatan matahari siang, cahaya-cahaya terobosan di dalam kios-kios hanya akan menjadi kenangan para pengunjung setia pasar tersebut.  Modernisasi akan merambah dan menggantikan suasana pasar jaman dahulu.

Pasar Triwindu harus mengalah dan menyerah pada era modernisasi pembangunan di kota Solo pada tahun 2008.  Yang tertinggal dari masa lalu hanyalah namanya saja.  Berbagai pro dan kontra, juga keresahan para pedagang disana tercermin pada hari-hari menjelang hari H dimana mereka diinstruksikan untuk pindah sementara ke bedeng-bedeng darurat yang disediakan oleh pemerintah kota Surakarta.  Suasana pasar terasa tegang, tidak seperti hari-hari sebelum tercetusnya ide perombakan total.  Wajah-wajah suram dan bingung menyelimuti mereka. Tidak lagi terdengar suara-suara ramah yang menawarkan barang-barang mereka, hanya ada resah dan khawatir yang tercermin di setiap pedagang di sana.  Mereka hanya mampu menempel poster-poster tulisan tangan di dinding-dinding sebagai tanda protes, pembicaraan dan keluh kesah diantara mereka, spanduk yang direntangkan dipinggir jalan salah satu gapura. Segala usaha yang dilakukan tidak meluluhkan hati para pembesar di Solo untuk merevisi rencana ini, terkesan mereka berteriak, namun tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan dalam menyuarakan keresahan ini. 

Warisan masa lalu oleh orang tua mereka disana segera akan terhapus oleh masa depan yang belum diketahui.  Satu lagi heritage yang hilang di terpa jaman. Namun para pakar sejarah dan budayawan Surakarta belum juga bersuara dalam mengemukakan pendapat mereka, seperti pada saat rencana pembangunan pasar Gede di Solo, ataupun wacana merombak pasar Klewer selayaknya mall.  Pasar Triwindu seakan tidak mampu meneruskan keresahan penghuninya kepada para pakar dan pemerhati di Solo. Akhirnya, di waktu yang singkat harus menyerah terhadap pemusnahan warisan aset budaya, cermin pasar tradisional dengan dalih penyempurnaan dan peningkatan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung.  Saatnya mengucapkan salam selamat tinggal kepada lorong-lorong, jendela dwi fungsi, payon-payon, pintu-pintu kayu, lantai semen dan suasana adem dan “rindang”, cahaya terobosan yang menyinari kios-kios.  Selamat tinggal warisan masa lalu……


Tanggapan

  1. wah keren foto-foto nya
    artikel nya juga enak dibaca, wartawan beneran ya?
    pake kamera apa?
    :D maaf banyak nanya, soalnya hobi saya sama juga

  2. hi budi,
    terima kasih buat comment dan pujiannya.
    saya bukan wartawan, hanya senang memperhatikan hal-hal yang menarik perhatian saya.

    kamera yang saya pakai : canon 350D.

  3. nice article, a good idea to promote indonesian tourism – http://worldtravelling.wordpress.com

  4. Kebetulan saya tinggal di Solo. Saya cuman berharap, rancangan pasar Triwindu yang baru telah dipertimbangkan dengan matang, tanpa meninggalkan nilai tradisional

  5. Saya setuju dengan komentar anda Mas Doni, semoga saya ciri khas ps. Triwindu tidak ditinggalkan oleh bangunan baru yang akan berdiri nanti.

  6. aku gelo tenan pasar triwindu sing saiki kuwi pasar modern, wong pemerintah gak duwe seni blas payah. solo saiki dadi kota cino wis ra jowo. mbah bahrun icon triwindu mumet kelangan omah lawas, sing paling misuh-misuh yo dhe ngronjal- yen sing enom2 sing penting duwit. dodik ngarepan pasangono rojomolo wae gen sangar le, gantine mbah bahrun icon triwindu. brengos ro rambut-e golekke brodolan mbotejem sak pasar

  7. Mas Satriyo,
    terima kasih atas kunjungannya. Memang seringkali tidak disadari, bahwa modernisasi tidak bisa diaplikasikan kesegala aspek kehidupan, namun dalam hal-hal tertentu, harusnya nilai-nilai tradisional ada yang wajib kita pertahankan.

    Namun, saya tidak setuju bahwa anda membawa nama kelompok/suku tertentu, karena tidak ada relevansinya. bahwa kota solo adalah milik semua rakyat Solo yang tinggal di kota itu, adalah kewajiban kita bersama untuk ikut menjaga kelestariannya, tanpa memandang suku/golongan tertentu.

    Terima kasih.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori