Karena suatu kegiatan, maka dalam waktu dua bulan ini, dua kali seminggu saya harus melakukan perjalanan dari Solo ke Yogyakarta, yang berjarak 65 km, dapat di tempuh dalam waktu 90 menit, tergantung keadaan lalu lintas.
Dalam rangka mengirit bbm yang konon dikabarkan akan naik harganya, maka saya memutuskan untuk memakai jasa KA. Prameks (= Prambanan Ekspress) yang mempunyai jadwal yang cukup sering untuk rute tersebut. Pertama kali pada saat saya menaiki gerbong yang di cat warna kuning terang itu, agak was-was juga, karena pernah mendengar dari teman-teman bahwa sering ada copet yang berkeliaran di dalam gerbong.
Interior gerbong selayaknya MRT di Singapur atau subway, dua baris tempat duduk dari bahan fiber, pintu dan injakan kaki otomatis. Bedanya, Prameks memanfaatkan “AC” (angin cendela), namun saya tidak merasakan panas sepanjang perjalanan, karena jendela-jendela yang berjejer di atas tempat duduk terbuka maksimal. Lantai yang bersih, petugas karcis yang tegas dan lugas juga menambah kenyamanan di dalam kereta. Belum lagi sat-pam yang senantiasa mondar mandir di sepanjang gerbong, juga ada dua petugas yang mendorong “cart” kecil yang berisi aneka minuman dan makanan ringan, dilengkapi dengan bel sepeda kecil, yang dibunyikan saat melintasi para penumpang. 
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 45 menit itu melewati persawahan yang membentang, kadang terlihat bukit-bukit dikejauhan, menjadi bonus tersendiri. Kereta ini hanya berhenti di stasiun Solo, Klaten dan Yogyakarta. (walaupun ada yang jurusan Solo-Kutoarjo, tetapi saya tidak begitu mengerti jalurnya). Tepat waktu berangkat adalah suatu prestasi PT. KAI yang perlu diacungkan jempol, sehingga penumpang tidak terganggu jadwal dan aktifitas mereka.
Sungguh suatu terobosan yang praktis bagi masyarakat yang punya kepentingan mengunjungi kedua kota tersebut, selain juga pengiritan yang signifikan tentunya. Cukup dengan merogoh kocek sebesar tujuh ribu rupiah saja, sudah dapat sampai di tujuan. Apabila dibandingkan dengan mengendarai mobil sendiri, maka setidaknya memerlukan seratus lima puluh ribu untuk biaya bensin. Perbedaan biaya yang mencolok, belum lagi pengiritan waktu dan resiko membawa kendaraan sendiri.
Kebersihan di gerbong juga harus di dukung oleh penumpangnya untuk tidak membuang sampah sembarangan di lantai, seperti yang pernah saya amati beberapa waktu yang lalu, dimana satu keluarga muda, dengan dua putri yang masih kecil. Orang tua mereka terlihat intelek, ayahnya tenggelam membaca di barisan tempat duduk di depan ibu dan anak-anaknya. Agar tidak rewel dan bosan, maka si ibu membukakan makanan ringan “Taro” kepada anaknya. Dalam mengambil snack tersebut, ada beberapa yang tercecer di lantai. Setelah habis makanan itu dengan ringannya, si ibu menjatuhkan bungkus makanan ringan itu ke lantai. Maka, terjadilah pemandangan yang tidak seindah bukit dan persawahan yang disajikan di luar gerbong.
Sangat disayangkan hal itu terjadi, bahkan dari keluarga yang intelek. Namun hal itu baru saya temui sekali dalam beberapa perjalanan yang saya lakukan dengan transportasi umum itu. Semoga semakin banyak orang yang akan menyadari untuk memelihara kebersihan gerbong demi kepentingan bersama.
Andaikata masyarakat luas menggunakan alat transportasi ini untuk bepergian kekedua kota tersebut, pasti penghembatan bbm akan sangat terasa, sehingga mungkin pemerintah tidak perlu selalu merevisi harga dan juga polusi yang disebabkan oleh kendaraan bermotor juga akan berkurang dengan drastis. Belum lagi dapat meningkatkan kesejahteraan para pegawai dan petugas kereta api.
Namun, masih ada segelintir kalangan yang berpikir, bahwa dengan menumpang transportasi umum yang tersedia, menurunkan gengsi mereka. Konotasi bahwa kendaraan umum yang disediakan hanya untuk kalangan bawah. Tanpa mempertimbangkan untuk lebih menyayangi bumi yang telah tua ini dengan cara yang sederhana, sehingga anak cucu kita dapat juga menikmati segala yang kita nikmati sekarang ini.
Konotasi bahwa Prameks itu kotor dan banyak copet sudah seharusnya dihilangkan, karena terlihat bahwa PT.KAI berusaha keras untuk merubah image yang sebelumnya bercokol pada jalur ini, sehingga mendapat tanggapan dan animo yang lebih daripada sekarang ini, sehingga jadwal dapat ditambahkan lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kedua kota tersebut.
Mungkin inilah salah satu cara kita dalam mengantisipasi kenaikan bbm dengan menggunakan skala prioritas dalam menyikapi peningkatan kebutuhan hidup dewasa ini.
Ternyata, dengan KA. PRAMEKS not bad at all….not bad at all !!!
JADWAL BERANGKAT PRAMEKS dari:
S O L O :
Jam : 05.45 ; 07.15 ; 08.45 ; 10.05 ; 11.40 ; 12.55 ; 14.50 ; 16.16 ; 17.45 ; 18.45
JOGYAKARTA :
Jam : 07.58 ; 09.30 ; 11.11 ; 12.30 ; 14.17 ; 15.05 ; 17.12












ini jadwal terbaru KA Prameks ya mas. apakah kalo kita datang dari jakarta pake Taksaka malam bisa ikut jadwal prameks yang jam 7.58???
denger2 ada prameks yang masuk ke gerbong KA Lodaya. Bener nich???
Mohon informasi.
thanks beratzzz.
cak poer
Oleh: purwadi kaswadi on Juli 16, 2008
at 10:20 am