Menjelang waktu makan malam kami sampai di Lasem, setelah menempuh perjalanan yang panjang, kondisi jalan yang jelek, serta macet yang lumayan lama di daerah Welahan-Kudus dan Pati-Rembang. Karena kami buta terhadap kota itu, maka muncul ide untuk berhenti dan mencari referensi untuk tempat makan dan menginap.
Kami memutuskan untuk bertanya di toko P&D, yang menjual berbagai makanan keci dan minuman, yang lumayan besar. Di depan toko itu berkumpul tiga bapak yang sedang “kongkow”. Mereka berlomba-lomba memberikan referensi tempat menginap dan rumah makan yang baik dan menurut mereka lebih baik kami kembali ke Rembang untuk menginap dan mengisi perut yang mulai “berbisik”. Kota Rembang yang hanya berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Lasem, yang tadi sudah kami lewati. Akhirnya kami mengikuti saran mereka dan kembali ke Rembang dan menginap di hotel Kencana yang terletak di pusat kota, berdekatan dengan alun-alun.
Hotel kecil yang bersih, lengkap dengan AC, TV, Kulkas dan tempat tidur double dan single. Cukup untuk mengakomodir kami bertiga. Setelah check-in, kami pergi kedaerah alun-alun untuk mencari makan malam. Diseputar alun-alun begitu banyak makanan yang dijajakan. Umumnya mereka menawarkan ayam goreng/bakar.
Keesokan paginya kami kembali ke kota Lasem yang terkenal dengan batiknya yang unik, karena corak dan warna yang ditampilkan. Tujuan pertama adalah ke pantai Lasem, yang merupakan pantai nelayan dengan kapal-kapal yang menyerupai “Jung” Cina, yang di cat warna-warni. Tersebar di sepanjang pantai. Selain batik yang indah dan unik, ternyata Lasem juga menyimpan berbagai bangunan kuno yang tersebar di seluruh kota yang membuat mata dan lidah berdecak kagum. Bangunan-bangunan yang begitu kental dengan arsitektur Cina, seakan sedang berada di negara tirai bambu.
Di tambah lagi dengan keramahan penduduknya kepada pengunjung dari luar kota, sungguh memberikan kesan yang menyenangkan. Kotanya yang kecil memungkinkan bagi para penduduk saling mengenal satu dengan yang lain. Kerukunan dan pembauran dirasakan sangat kental, sehingga terasa harmonisasi dari penduduknya yang terdiri dari berbagai tingkatan sosial ekonomi. Sopan santun dirasakan juga begitu kental dengan kehidupan mereka. Tidak segan juga untuk menceritakan sejarah kota Lasem, seperti yang dilakukan oleh Bapak Sigit ketika menerima kami di rumahnya, kendati sebelumnya belum saling mengenal. Juga tetangga beliau, Bapak Widji Soeharto sempat mengundang saya untuk mengambil foto di rumahnya yang ber-arsitektur Cina-Eropa. Suatu keramahan yang langka pada jaman sekarang ini, dimana masyarakat cenderung apatis dan individualis. Saya sempat canggung akan keramahan ini, yang merupakan satu kemewahan tersendiri.
Terdapat kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Poo An Bio di Jalan Karangturi, Gie Yong Bio di Jalan Babagan. Ketiga kelenteng ini ukiran-ukiran Cina yang sangat halus, di sinyalir ukiran-ukiran tersebut dilakukan oleh pengukir-pengukir yang didatangkan dari daratan Cina. Yang membedakan kelenteng Gie Yong Bio di Jalan Babagan dengan yang lainnya, adalah dengan berdirinya patung Raden Margono, Tan Kee Wie dan Oei Ing Kiat dimana mereka bahu-membahu melawan VOC pada tahun 1742. Pemberontakan ini di kenal dengan nama Perang Godo Balik.
Kerukunan diantara masyarakat Lasem sudah tercipta beberapa abad yang lalu, selain masyarakat Tionghoa yang mayoritas beragama Kong Hu Cu itu, mempunyai falsafah di empat penjuru benua adalah rumah/tempat tinggal dan setiap manusia adalah saudara, sesuai yang tersirat dalam kitab Kong Hu Cu. Aspek-aspek inilah yang melatarbelakangi keramahan dari masyarakat Lasem pada umumnya.
Ternyata tidak saja batik Lasem yang cantik, namun budi pekerti masyarakat Lasem juga tidak kalah cantiknya.











Aku lahir di Lasem (jl. Gambiran), sejak lulus SMP meninggalkan Lasem dan sekarang bermukin di Garut. Kontak2 aku ya, kalo anda org Lasem juga, thank’s.
Oleh: indro on Juni 29, 2008
at 9:35 pm
wisata kuliner : ojo lali ambek “Lontong Tuyuan”, rasane bikin kangen…..
Oleh: indro on Juni 29, 2008
at 9:39 pm
mbak… lasem itu kalo dari semarang sebelum atau setelah rembang ya?
Oleh: andian on Juli 16, 2008
at 1:50 pm
huh lasem ku ak merindukan mu
Oleh: dedi on Agustus 1, 2008
at 11:11 am
lasem kota ku yang kecil tapi mengingatkan kerinduan q pulang kampung yang sekarang q berada di salatiga hallo lasem(ngemplak_cah aspentosick) sampai jumpa di kemudian hari
Oleh: fredy on Agustus 18, 2008
at 7:25 pm
ke lasem jo lali yo lontong tuyuane maknyus tenan murah meriah contak gue di freud_212@yahoo.co.id kanggo wong2 perantaun neng di wae
Oleh: fredy on Agustus 18, 2008
at 7:28 pm
lasem it’s ok bangett lhoooooo………
kemaren di lasem ada karnafal lhooo
lasem kota tercinta gw,mulai dari lahir gw dah tinggal di lasem…
di lasem juga ada patung budha tidur lhoooo….batik tulis…….klenteng……….lontong tuyuhan……pantai binangun indah….pasujudan sunan bonang…
pokoknya kota lasem tu occ bgt
Oleh: mentrex on Agustus 21, 2008
at 11:18 am
lasem is so nice
Oleh: andreas on September 12, 2008
at 3:21 am
allow lasem, sekarang salah satu putramu merantau dan menetap di kota malang. sampai jumpa lagi. salam buat semua cah lasem. call aku 085755461010 alo nyasar ke malang
Oleh: eric on Januari 1, 2009
at 5:04 pm
lasem yg tentram,, tenang,,, tapi dalane uelikkk…. hikhikhik !!!
Oleh: vien on Februari 12, 2009
at 11:29 pm
lasem akeh bakul kopi semox2 !!!
Oleh: maximianus on Februari 12, 2009
at 11:34 pm