
Desa Sikka di tempuh dengan jalan darat, tidak terlalu jauh dari kota Maumere. Letakknya di pesisir pantai. Memasuki desa itu, kami melewati pinggir pantai. Dengan melewati tanda salib yang besar dari kayu, menurut cerita, salib itu telah berdiri sejak dahulu kala, disinyalir sebagai peninggalan portugis, juga melalui sederet panjang rumah panggung yang terletak disepanjang jalan.
Sampai di ujung desa, terlihatlah gereja katolik yang paling tua di Flores, bangunan khas gereja ala Portugis yang terbuat dari kayu. Dari luar, bangunan gereja itu tidaklah berbeda dengan gereja lainnya di Flores. Gedung paroki yang merupakan rumah pastor berhadapan dengan bangunan gereja. Kami masuk ke gereja itu yang tidak terkunci, keindahan bangunan ini terkuak. Yang paling menonjol dari bangunan ini adalah langit-langit gereja yang begitu unik dengan permainan usuk dari kayu yang melintang indah. Tiang-tiang kayu penyanggah bangunan berjejer rapi di sebelah kiri dan kanan bangunan juga memberi sentuhan indah pada bangunan ini. Terkesima! itu yang dapat saya ungkapkan. Bangku-bangku umat juga tertata rapi. Kayu-kayu kuno yang besar-besar dijadikan pilar bangunan itu. Altar yang unik dan kuno. Semuanya dalam keadaan baik. Patung-patung yang menjadi salah satu ciri khas gereja katolik menandakan keuzuran dari gereja ini. Deburan ombak dikejauhan menambahkan suasana kekhusyukan suasana. Sayang, pada saat kami datang tidak ada kegiatan misa disana. Pastor paroki juga tidak berada di tempat, menurut informasi yang kami terima dari seorang penduduk disana, beliau sedang berkunjung ke desa lain, salah satu kegiatan pastoralnya. Di gereja ini hanya terdapat satu pastor untuk melayani umat.
Menikmati keindahan gereja ini terganggu oleh kerumunan anak-anak yang mengikuti kemanapun kita berjalan untuk sekedar meminta uang dengan berbagai dalih, untuk sekolah, untuk beli buku. Ada satu anak yang berusaha menawarkan jasanya dengan mengomentari segala yang kita lakukan. Puas menikmati keindahan itu, aku melangkah keluar ke gereja dengan diikuti “dayang-dayang” kecil
dibarengi “endless chanting” tentang kebutuhan membeli buku. Betapa terkejutnya sesampainya aku diluar gereja, ternyata telah menunggu ibu-ibu yang siap dengan kain tenunnya ditangan, sambil duduk-duduk mereka dipelataran gereja. Namun, tidak secara langsung mereka menawarkan, rupanya ada pembicara yang ditunjuk untuk menjawab pertanyaan ataupun bercerita tentang gereja tersebut. Di sela-sela “menjadi guide” dia juga menawarkan kain ikat yang mereka tenun sendiri. Kami menolak dengan halus, berpamitan, setelah menumpang kamar mandi pastor
Menaiki mobil sewaan kami dan masih diikuti oleh para dayang dayang kecil yang tetap chanting dengan setianya. Kurogoh kantongku, memberikan yang mereka mau, segera diterima dan mereka lari menjauh dari kami. Wow, MAGIC!
Kami terganggu oleh mereka, namun kami mengerti kesulitan hidup yang semakin melilit membuat mereka mengemis. Perjalanan keluar dari desa itu sempat membuat kami terdiam, ada rasa iba dan sedih yang menguak. Kemiskinan yang menyakitkan. Salah satu cara yang mereka tahu adalah dengan meminta pada pengunjung, menawarkan kain ikat hasil tangan mereka sendiri. Hanya itu yang mereka tahu.
Sore telah mengintip saat kami memacu mobil meninggalkan tempat itu. Rasa kagum, “ngenes” dan sedih bercampur jadi satu, menyebabkan kami terdiam sekelumit waktu. Begitu kontras perasaan itu, begitu beragamnya hidup manusia ini.









