Oleh: connie lianto | Januari 10, 2008

SOLO

Pada hari Rabu, tanggal 9 Januari 2008, kota Solo terasa kesibukan lalu lintas yang lebih dari biasanya.  Masyarakat menyiapkan diri untuk menyambut Malam 1 Suro.  Menjadi tradisi di Solo dari dahulu kala, Pura Mangkunegaran akan mengadakan kirab (perarakan) pusaka  Puro, beberapa jam sebelum  kirab pusaka di Keraton Surakarta, yang setiap tahun dilakukan pada tengah malam menjelang Suro.

Adalah kebiasaan masyarakat Solo dan sekitarnya untuk mengelilingi Puro Mangkunegaran sebanyak 7 kali dengan berdoa meminta berkah memasuki tahun baru Jawa, juga sekalian berefleksi tentang segala yang dilaluinya pada tahun yang silam.  Salah satu ketentuan yang dipercaya oleh masyarakat adalah untuk tidak menengok kebelakang pada saat melakukan ritual tersebut.  Menjelang malam, luar tembok Puro Mangkunegaran dipadati oleh para peziarah yang melakukan ritual tersebut, sehingga aparat lalu lintas turun tangan dalam mengatur lalu lintas.  Jalan di depan gerbang Utama Puro di tutup, karena berjubelnya manusia. 

Kepadatan kendaraan roda dua dan empat juga terasa di Slamet Riyadi.  Mereka memarkir kendaraannya di pinggir jalan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi untuk menunggu kirab Keraton Surakarta.  Kemacetan-kemacetan kecil tidak dapat dihindari, keruwetan juga terjadi di area mendekati Keraton Surakarta, karena ulah para pengendara sepeda motor yang menyelip tanpa memperhatikan keselamatannya.  Lampu sign sepertinya tidak berarti bagi mereka, karena tidak mempedulikan sama sekali.  Maka roda empat haruslah ekstra hati-hati untuk tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. 

Keadaan seperti ini berlangsung sampai larut malam, karena pada malam suro masyarakat Jawa biasanya melakukan “lek-lekan”, begadang sampai sesudah jam 12 malam.  Maka banyak juga rumah-rumah di kampung yang membuka pintu mereka, bahkan ada yang menggelar tikar di depan rumah mereka untuk berkumpul dengan mengobrol, minum teh/kopi untuk mengusir rasa kantuk. 

Banyak di antara mereka yang berjalan kaki dari daerah pinggiran kota Solo untuk menuju ke Puro Mangkunegaran untuk menuntaskan ritual tahunan itu atau hanya sekedar menyaksikan kirab Keraton Surakarta.

Dari jaman dulu, yang menjadi primadona pada waktu ritual kirab pusaka Keraton Surakarta adalah kerbau Kyai Slamet, berkulit albino, sering juga di sebut kebo bule, yang setiap malam suro tidak pernah terlambat untuk kembali ke Keraton untuk di kirab bersama dengan pusaka-pusaka Keraton lainnya, seperti tombak, keris, pedang dan lain sebagainya. Pada hari-hari biasa, kerbau itu dibiarkan melanglang buana, kadang sampai ke Wonogiri (sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan).  Keunikan dari kesetiaannya pada Keraton Surakarta yang menjadikannya terkenal dan di tunggu-tunggu oleh segenap masyarakat pada malam itu, walaupun Kyai Slamet telah berganti beberapa generasi, namun kesetiaan turun temurun tetap melekat pada keturunannya. 

 Namun setelah jam satu malam, keadaan pelan-pelan berangsur sepi dengan sendirinya.  Pintu-pintu rumah mulai tertutup. Keheningan mulai terasa, meninggalkan bias-bias keramaian.  Kota Solo kembali seperti malam-malam lainnya, hanya bedanya, masyarakat mempunyai harapan baru, dibarengi dengan keprihatinan yang mendalam, serta refleksi tentang segala kekeliruan pada tahun sebelumnya, dalam menyambut tahun baru Jawa yang telah menanti di ujung mata.

Selamat Tahun Baru Jawa…. Semoga Tuhan berkenan terhadap kita semua dan menjauhkan segala marabahaya dan malapetaka dari hidup kita. Amen. Amen. Amen.

Maaf, saya tidak sempat mengambil foto pada malam Suro…. Ada kegiatan lain yang tidak bisa saya tinggalkan.


Tanggapan

  1. baru pertama ke solo yahhh
    coba naik dikit ke arah tawangmangu , tepatnya di Gunung Lawu
    ini Gunung kok sampai ngantri , orang2 pd naik gunung sampai ngantri …
    By Eko

  2. Mas Eko,
    Saya domisili di Solo. thanks

  3. I like Solo and Jogja.
    Very interesting city, i will comeback again someday.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori