Oleh: connie lianto | Januari 6, 2008

SINGKAWANG

singkawangKotamadya Singkawang yang berarti daratan/tanah yang dikelilingi oleh gunung, laut dan sungai, terleletak di Pulau Kalimantan Barat. Lama perjalanan sekitar 3 jam  dari  kota Pontianak yang merupakan ibukota Propinsi Kalimantan Barat. 

Ada beberapa bangunan yang menjadi ciri khas Singkawang sejak jaman dahulu kala dan masih berdiri kokoh menantang jaman. GerejaKatolik Santo Fransiskus, Mesjid Agung, Kelenteng/Vihara yang berada di tengah kota.  

Tidak kalah menarik pula keramaian pasar dengan beraneka ragam sayuran, daging, menu sarapan yang ditawarkan, juga memberi warna tersendiri dalam memulai hari.  Berbagai kue, bubur daging babi, bakmi seafood yang ditawarkan disana.  Sulit bagi kami untuk menahan keinginan untuk tidak jajan. Pasar traditional menajadi salah satu kegiatan rutin kami, setiap kali kami berkesempatan untuk mengunjungi kota ini.  Kesibukan transaksi yang mengasyikkan.  Situasi seperti ini tidak pernah berubah dari jaman dahulu kala. Yang merupakan salah satu peninggalan dari masa lalu.  Sayangnya penjaja es serut yang dulu merupakan kesukaan saya sudah tidak lagi berjualan di tengah pasar.  Sepertinya es serut yang berwarna merah muda sudah punah dari kota ini.

Sesuai dengan perkembangan jaman, pemukiman rakyat berkembang keluar pusat kota.  Bahkan di pantai Singkawang (sekitar 30 menit dari pusat kota) berdiri hotel Santika, namun kami tidak sempat mengunjunginya, karena waktu yang begitu singkat.  Hotel-hotel mulai bertumbuh kembang disana, sesuai dengan kebutuhan, walaupun mereka masih menyediakan fasilitas yang standard.  Bicara tentang hotel, kami menginap di Hotel Prapatan, yang letaknya strategis di dalam kota.  Satu pelajaran yang berharga saya petik selama menginap di sana, bahwa adalah kesalahan besar untuk meminta mereka membersihkan kamar kami, karena ternyata mereka tidak hanya sekedar membersihkan kamar, tapi juga membersihkan tas kami, dua set kacamata saya, hitam kir dan putih kir raib tanpa saya sadari.  Untunglah lensa-lensa kamera tidak ikut raib pula.  Kacamata yang merupakan piranti esential saya pada saat saya menyetir.  

Penduduk yang mayoritas adalah dari etnis Cina dan beragama Kong Hu Cu, diikuti oleh Katolik, Islam, Kristen. Pusat kota masih dapat dilalui dengan berjalan kaki, walaupun kendaraan roda empat dan dua sudah begitu banyak, namun untuk berjalan kaki masih merupakan kegiatan yang mengasyikkan disana.

 Morning in Singkawang

Ada satu bangunan yang begitu menarik perhatian saya, setiap kali saya mengunjungi kota itu.  Bangunan kayu tua itu di sebut oleh masyarakat setempat disana sebagai “Dai Buk Tu” yang artinya”Rumah Besar”.  Sesuai dengan namanya, rumah itu memang besar, berlokasi di pinggir sungai, bangunan yang telah berusia 10oan tahun, dari material kayu besi seluruhnya. Masih berdiri kokoh sampai sekarang. Pendirinya adalah Marga Chia, dari dialect Hokkien, merupakan taipan di Singkawang pada jamannya. Yang tinggal di rumah itu sekarang adalah para keturunanya.  Mereka telah membagi-bagi bangunan itu menjadi “compound” masing-masing keluarga.  Saya tidak jelas bagaimana mereka membagi dan legalitas dari bagian yang mereka peroleh.  Yang pasti tidak diperjual belikan.  Bangunan 2 tingkat yang begitu kokoh dan unik tetap tegar menembus waktu.  Tidak ada perubahan yang signifikan pada keseluruhan bangunan itu.  Ada dua ruangan besar yang mereka gunakan bersama setiap tahunnya, yaitu Ruang Doa, dimana terletak altar sembahyang yang di import dari Daratan Cina. Sembahyangan cara Kong Hu Cu kepada Tuhan YME dan para leluhur (ancestor hall) dan satu lagi ruangan serba guna.  Pernikahan, kematian, pesta tahun baru Imlek dilaksanakan disana. Kalau kita menyelusuri rumah itu, disana-sini masih ada mebel peninggalan jaman kuno yang masih terpelihara baik dan masih digunakan.  Namun sayangnya sudah banyak yang di jual kepada orang-orang kaya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Puncak keramaian disana adalah setiap Imlek dan Cap Go Meh, dimana ada atraksi-atraksi keliling kota dari ”penunggu Kelenteng” dari segala penjuru Singkawang dan itu menjadi atraksi tersendiri yang tidak kalah unik dan magisnya.  Tradisi Cina masih dipegang teguh oleh masyarakat disana dan menjadi hiburan yang meriah yang dilakukan setiap tahun, sesudah pemerintahan Orde Baru lengser.  Yang dewasa ini menjadi atraksi tersendiri untuk para turis asing maupun domestik.

 410_1003.jpg

Bagi kami, Singkawang artinya makanan. Rumah makan masakan Cina yang tidak menyediakan menu, namun mereka akan memasakkan sesuai dengan pesanan. Unik bukan? 

Note/Tambahan :

Salah satu istimewa di Singkawang adalah kopinya, yang dapat didapatkan di kedai-kedai kopi yang tersebar diseluruh sudut kota, tetapi yang menjadi favorit saya adalah kedai yang terletak di dekat terminal bis, Jl. Niaga.  Di depan kedainya ada ibu berjilbab berjualan “bubur sapi” (?).  Owner kedai kopi tersebut, yang juga “coffeetender” adalah seorang ibu muda yang cantik dan ramah. Namun kopi buatannya begitu enak, melebihi espresso dimanaupun di dunia.  Teko, tempat kopi, tempat air mendidih juga begitu traditional, semuanya dari bahan kuningan.  Andai saya kesana lagi, pasti akan mampir untuk menikmati espresso seduhannya. (Maklumlah, saya pencinta kopi, kalau tidak disebut addict).

407_0761.jpg


Tanggapan

  1. thanks atas kunjungannya ke singkawang.
    akan lebih menarik kl mengunjungi singkawang saat ada event2 khusus seperti imlek (7 Feb 2008) dan cap go meh (21 Feb 2008) yang akan tiba sebentar lagi.
    jgn lupa juga kunjungi website SINGKAWANG di http://www.singkawang.us yach….

  2. terima kasih Aldy atas commentnya.

  3. Wah ud pernah ke singkawang ya? hehe..thanks ya

  4. Info2 tentang singkawang bisa juga ke http://hakka-singbebas.blogspot.com

    Salam.

  5. singkawng indah bangettt…….
    bukan hanya itu saja,, disingkawang orangnya juga ramah-ramah….
    klo ga percayaa…..
    langsung aza pergi ke singkawangggg…..
    ^_^

  6. thanks rika atas commentnya.
    singkawang memang indah persahabatannya.

  7. hallo..bgmna kbr kota singkawang skg?sy sudah lama tdk plg kampung.skg sy tugas di bogor.sy senang sekali dpt bergabung di situs ini

  8. hallo….

  9. halo Suwinto,
    salam kenal juga.
    singkawang adalah kota yang belum banyak mengalami perubahan, walaupun dibeberapa tempat terdapat bangunan ruko yang baru, juga bertambahnya kendaraan bermotor, baik roda dua maupun empat. kita masih dapat menikmati secangkir kopi tubruk panas di kedai kopi di pagi hari, diselingi dengan percakapan enteng dengan sesama pengunjung. keramahan masih terasa kental disana. tidak banyak yang berubah.
    semoga suatu waktu nanti anda dapat kembali mengunjungi kota tua yang unik itu, yang pasti membawa banyak kenangan bagi anda.

  10. makasih y udah nulis tentang singkawang.
    Singkawang……. I miss u…..

  11. hi rista,
    terima kasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan saya, khususnya tentang singkawang.

    salam…

  12. Salam kenal ya buat lianto…………….aduh jadi pengen pulang nih…………..

  13. halo abib, salam kenal juga. mudik, jangan lupa seruput kopi tubruk nya di kedai kopi ya.

  14. saya pingin banget niiih informasi lengkap tentang kota singkawang,.. terutama jalan jalan kota, tempat wisata, pusat pusat kegiatan penting di kota itu…juga yang gak ketinggalan tuh makanan khas kota singkawang……

  15. Hi Fuadi,
    terima kasih mampir disini. Mengenai Singkawang, kotanya kecil, terdiri dari tiga jalan utama yang dibatasi oleh ruko-ruko. sehingga aksesnya dapat dilakukan dengan jalan kaki. Tempat wisata yang terkenal adalah pantai pasir panjang, tetapi kalau kamu ke Pemangkat, bisa menyewa boat/perahu nelayan untuk menuju ke pulau kecil yang berada disekitarnya, namun saya sendiri belum pernah berkunjung kesana. Pusat kegiatan, saya belum pernah menjumpainya, mungkin karena kota Singkawang adalah kota dagang, jadi untuk kebudayaan agak tertinggal. Makanan yang khas ada bakso sapi, bubur sapi dipagi hari, pisang goreng. Kebanyakan makanan disana adalah non-halal. jadi bagi teman-teman yang muslim mungkin agak terbatas pilihan makanannya.

    Kalau anda kesana dan menginap di hotel Prapatan, harap hati-hati dengan bawaan anda di kamar, kalau bisa digembok saja. Ada pengalaman saya kehilangan kacamata minus dan kacamata hitam yang juga minus, padahal saya taruhnya di tas di dalam lemari. Mungkin karena kami meminta untuk dibersihkan.

    Semoga berguna informasi saya.

    Salam,
    Connie

  16. Saya senang sekali baca mengenai Singkawang.
    Mungkin buat yang sudah pernah ke Ketapang saya ingin sekali dapat mengenai desa Manis Mata, Marau – Ketapang dan foto-foto kalau ada.

    Salam,
    Intan

  17. tahun 2002 aku pernah tinggal dan kerja di Singkawang (8 bulan), aku tinggal di jalan pramuka, bagiku itu adalah pengalaman menarik / episode hidupku yang menarik, kalo malam aku makan di pasar hongkong. Dalam seminggu rata-rata 3 kali aku harus ke bengkayang, aku jadi pengawas pekerjaan jembatan. Singkawang itu unik, inilah keragaman Indonesia, tiap daerah punya kekhasan sdm,budaya dan alam. Singkawang adalah kota besar yang lagi tidur, aku yakin suatu saat kota ini akan besar lagi. Pingin juga suatu saat dapat berkunjung lagi ke Singkawang, moga2 kawan2 yg dulu kukenal masih tinggal disitu. Sekarang aku tinggal di jawa timur di kota Batu 18 km arah barat Kota Malang. see you….

  18. prapatan memang tak aman…sayang, penulis agak sembrono dalam menyebut marga kami yg sebagian masih menempati thay buk tu. Marga kami adalah CHIA atau shie!

  19. Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini, Sdr. Bawang. Maaf atas kesalahan penulisan marga keluarga besar anda, memang bermaksud untuk menulis Chia. Kekeliruan penulisan telah saya perbaiki.

    Salam

  20. selamat dan sukses selaluuuuu

  21. singkawang city,hm………..so long time. i leave you.i miss you.
    my beautiful city………,

  22. Singkawang luarbiasaaaaa and thanks a lot buat penulis singkawang….i miss u to singkawang.
    i will come to singkawang next year


Beri tanggapan

Your response:

Kategori