Posted by: connie lianto | Juli 5, 2008

SANG PROKLAMATOR

Sang Proklamator
Sang Proklamator

Kesempatan liburan kali ini terbersit rencana untuk mengunjungi makam sang proklamator, the founding father dari negara tercinta ini, Bung Karno.

Jarak dari kota Blitar ke makamnya tidaklah jauh untuk ditempuh. Parkiran mobil persis di depan pintu masuk kompleks makam.  Bangunan minimalis terdiri dari museum lukisan (atau lebih pada museum foto?) disebelah kiri dan perpustakaan di sebelah kanan. Sayang, perpustakaan sudah tutup pada saat kami sampai disana.  Void diantara dua bangunan itu terdapat patung Bung Karno yang besar, menghadap diagonal. Kompleks makam yang bersih dan tenang, memberikan kesan yang baik (hussle free) dalam benakku.  Disalah satu sudut terpampang kertas yang bertuliskan “Mengunjungi Makam Bung Karno tidak bayar”, alias gratis. Wah… ada kesalutan pada pemerintah daerah Blitar dalam hati.  Memang sudah semestinya mereka merawat makam itu, karena jasa yang disumbangkan pada negeri ini. SALUTE!

Kompleks Makam

 

 

Memasuki museum lukisan yang gelap gulita, pengunjung diharuskan untuk mengisi buku tamu. Dikatakan bahwa saat itu sedang mati lampu, sehingga tidak banyak yang dapat dilihat oleh pengunjung.  Sebelum memasuki makam, pengunjung diwajibkan untuk mengisi buku tamu lagi di “kantor” yang berada di sebelah kiri daripada gapura makam.  Namun kali ini dengan pesan : “Sumbangan sukarela”, pesan sponsor dari personil yang mengenakan seragam serupa dengan warna seragam PEMDA pada umumnya. Terhenyak! tulisan “tidak bayar” yang terpampang di gerbang masuk utama tadi apa?!!? Ah…..tadi kan saya sudah mengatakan itu sukarela….kalau tidak berkenan ya tidak apa-apa….Mungkin seperti itu kira-kira argumentasinya apabila dikonfrontir.  Karena orang yang mengisi buku tamu tidak memperhatikan tulisan “tidak bayar” maka dengan otomatis menyodorkan sejumlah uang kepada petugas tadi. Diterima dengan baik.

Peristirahatan kekal Putra Sang Fajar
Peristirahatan kekal Putra Sang Fajar

Kompleks makam bagian dalam dibangun model joglo yang terbuka yang pendek, lantai marmer. Batu nisan “diperkirakan” dari batu andesit yang besar, yang diambil dari gunung Kelud (demikian informasi yang diterima dari petugas disana).  Makam Bung Karno di dampingi oleh makam bapak dan ibunya yang terletak di kiri dan kanannya. 

Sudut joglo, ada beberapa orang yang duduk berselonjor sambil bercengkerama dan memperhatikan para pengunjung yang datang untuk berziarah.  Ternyata mereka adalah yang menawarkan jasa pada pengunjung untuk foto didepan makam, dengan camera pocket digital. 

Pintu masuk dan pintu keluar dibedakan, walaupun mobil diparkir di depan pintu masuk, namun diwajibkan bagi pengunjung untuk melewati pintu keluar yang berada dipenghujung dari pintu masuk. Pintu keluar terdiri dari lorong panjang di mana para penjual souvenir menawarkan dagangannya.  Setelah melewati lorong itu, pengunjung digiring dengan jalan berkelok-kelok yang tiada habisnya, layaknya permainan ular tangga, kiri kanan lorong yang tiada berkesudahan itu terdapat kios-kios souvenir dari kaos sampai pada centong. Setelah perjalanan yang berkelok-kelok dibelantara souvenir, sampai juga pada jalan raya. Sudah menunggu becak-becak yang berjejer rapi dipinggir jalan, menawarkan jasanya untuk mengantar ketempat parkiran bis ataupun mobil.

Becak
Becak

Kuputuskan untuk berjalan menuju parkiran mobil, ternyata letak pintu masuk dan “pintu keluar” sangatlah jauh. 

Ternyata di makam proklamator tidaklah gratis seperti yang terpampang di salah satu sudut tembok kompleks museum.  Di balik makam itu sengaja diciptakan “tourist trap” yang mengharuskan para pengunjung mengitari satu putaran besar dan menggunakan transport becak untuk menuju kembali ketempat parkiran. Tourist trap yang sengaja telah diciptakan oleh penguasa setempat.

Pembelajaran “gratis” di Blitar, khususnya di makam Sang Proklamator, membuat saya teringat pada idiom yang berbunyi “don’t judge a book by its cover”. Salute yang saya berikan diawal tulisan ini, saya tarik kembali. Mengingatkan saya pada komentar seorang sahabat tentang segala urusan yang ada di Indonesia, kalau memungkinkan untuk dipersulit, mengapa harus dipermudah? Komentar ini sangat berlaku di kompleks pemakaman Sang proklamator, founding father kita yang kita kagumi.

Nisan Sang Proklamator
Nisan Sang Proklamator
Posted by: connie lianto | Juni 18, 2008

Pasar Triwindu Solo

Pasar antik Triwindu menjadi salah satu keharusan untuk dikunjungi para tamu yang datang ke kota Solo, selain pasar Klewer yang terkenal dengan batiknya.  Pasar Triwindu merupakan “thrift market” yang unik, dengan menjual berbagai barang-barang kuno dan memoribilia, membawa kita kepada kehidupan pada masa lalu.

Lorong-lorong sempit, namun bersih, kios-kios yang dipenuhi berbagai macam barang kuno maupun barang-barang buatan baru memenuhi etalase dan space di setiap kios yang berada di kawasan itu.  Para pedagang duduk di “dingklik” (kursi kecil yang pendek) menanti pembeli di depan kiosnya, sambil bercerita dan bersenda gurau dengan pemilik kios yang lain. Kadang kala terdengar tawa canda, kadang pula saling menanyakan tentang penjualan pada hari itu, sembari sekali-kali menawarkan kepada tamu yang melewati kios mereka. Berburu barang-barang kuno, dari koin lama sampai pada gelas kristal di sana merupakan hal yang sungguh menyenangkan, walaupun komplek pasar tidaklah besar.

Pasar ini adalah hadiah ulang tahun yang kedua puluh empat dari GRAy. Nurul Khamaril, puteri Mangkunegoro VII. Selain nama Triwindu (Tri= tiga ; Windu= delapan), pasar ini juga di kenal dengan nama pasar Windu Jenar.Namun pasar triwindu yang terkesan unik itu, karena perpaduan antara barang antik, vintage dengan onderdil motor/mobil, juga alat-alat pertukangan dan pertanian. Mereka mempunyai blok tersendiri untuk ketiga jenis barang tersebut di atas. Pasar Triwindu termasuk salah satu aset budaya di kota Solo.

 

Namun dalam waktu yang dekat, pemerintah kota Solo merasa urgent dan perlu untuk merombak pasar tersebut secara total dengan tujuan untuk kenyamanan pengunjung.  Ada kemungkinan lorong-lorong hunting akan dihilangkan, kios-kios dari kayu juga lenyap, lantai semen akan digantikan oleh keramik modern, daun jendela lebar dari kayu yang mempunyai dwi fungsi, baik sebagai penutup jendela dan payon akan digantikan oleh plafon. Semua akan berubah. Ambience pasar antik tradisional akan segera sirna.  Suasana adem dan rindang karena payon-payon yang menjadi tudung dari sengatan matahari siang, cahaya-cahaya terobosan di dalam kios-kios hanya akan menjadi kenangan para pengunjung setia pasar tersebut.  Modernisasi akan merambah dan menggantikan suasana pasar jaman dahulu.

Pasar Triwindu harus mengalah dan menyerah pada era modernisasi pembangunan di kota Solo pada tahun 2008.  Yang tertinggal dari masa lalu hanyalah namanya saja.  Berbagai pro dan kontra, juga keresahan para pedagang disana tercermin pada hari-hari menjelang hari H dimana mereka diinstruksikan untuk pindah sementara ke bedeng-bedeng darurat yang disediakan oleh pemerintah kota Surakarta.  Suasana pasar terasa tegang, tidak seperti hari-hari sebelum tercetusnya ide perombakan total.  Wajah-wajah suram dan bingung menyelimuti mereka. Tidak lagi terdengar suara-suara ramah yang menawarkan barang-barang mereka, hanya ada resah dan khawatir yang tercermin di setiap pedagang di sana.  Mereka hanya mampu menempel poster-poster tulisan tangan di dinding-dinding sebagai tanda protes, pembicaraan dan keluh kesah diantara mereka, spanduk yang direntangkan dipinggir jalan salah satu gapura. Segala usaha yang dilakukan tidak meluluhkan hati para pembesar di Solo untuk merevisi rencana ini, terkesan mereka berteriak, namun tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan dalam menyuarakan keresahan ini. 

Warisan masa lalu oleh orang tua mereka disana segera akan terhapus oleh masa depan yang belum diketahui.  Satu lagi heritage yang hilang di terpa jaman. Namun para pakar sejarah dan budayawan Surakarta belum juga bersuara dalam mengemukakan pendapat mereka, seperti pada saat rencana pembangunan pasar Gede di Solo, ataupun wacana merombak pasar Klewer selayaknya mall.  Pasar Triwindu seakan tidak mampu meneruskan keresahan penghuninya kepada para pakar dan pemerhati di Solo. Akhirnya, di waktu yang singkat harus menyerah terhadap pemusnahan warisan aset budaya, cermin pasar tradisional dengan dalih penyempurnaan dan peningkatan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung.  Saatnya mengucapkan salam selamat tinggal kepada lorong-lorong, jendela dwi fungsi, payon-payon, pintu-pintu kayu, lantai semen dan suasana adem dan “rindang”, cahaya terobosan yang menyinari kios-kios.  Selamat tinggal warisan masa lalu……

Posted by: connie lianto | Juni 11, 2008

Pabrik Gula Tasikmadu, Karanganyar, Surakarta

KGPAA. MANGKUNEGORO IV

Walaupun pabrik gula Tasikmadu, Karanganyar masih beroperasi dalam mengolah tebu menjadi gula pasir, tetapi juga mengalami kemunduran dalam bisnisnya.  Pabrik gula yang yang dibangun oleh KGPAA. Mangkunegoro IV dalam melebarkan sayap bisnis beliau, namun pada jaman kemerdekaan Indonesia di ambil alih oleh pemerintah Indonesia, di bawah naungan PT. Perkebunan Nasional (Persero).  Adapun letak Pabrik Gula Tasikmadu, terletak di sebelah timur, berjarak sekitar 15 km dari kota Solo. 

Satu pagi yang masih gelap, kulajukan kendaran menuju PG (pabrik gula) Tasikmadu. Keinginan melihat keadaan sekitar pabrik itu, serta bangunan yang telah berdiri di sana sejak th. 1871 dan mengabadikannya dalam bentuk foto, maka kupilih waktu fajar menyingsing untuk dapat menghasilkan ambience foto yang baik. 

PG. Tasikmadu dari depan

Sesampainya disana, di sambut oleh para keamanan.  Melihat kamera yang tergantung di pundak, berasumsi bahwa saya adalah wartawan.  Setelah saya jelaskan bahwa hanya untuk dokumentasi pribadi.  Saya di “ijinkan” untuk melihat dan mengambil foto gerbong MN IV dan kereta kuda sederhana yang digunakan saat beliau meresmikan PG tersebut. Walaupun gerbong dan kereta berada di depan dan dengan akses masuk yang tidak terhalang, namun perlu juga “ijin khusus” untuk itu. Dengan di “antar” oleh petugas keamanan, saya akhirnya di “ijinkan” dan ditunggui dalam mengambil foto.

Agak mengurangi “comfort” saya dalam mengambil foto kedua benda bersejarah itu, namun tidak menjadi masalah, asal saya dapat mengabadikannya.  Berseberangan dengan PG ada sebuah taman di sana, namun belum diperbolehkan masuk, karena loketnya belum buka, harga tiket masuk yang tertera di loket adalah Rp. 2.000,- saja.  Untuk tour ke dalam pabrik, petugas keamanan menyarankan untuk kembali lagi sekitar jam 7 pagi, karena petugas belum datang. Sambil menunggu, saya menghabiskan waktu untuk mengitari daerah sekitar PG, menyelusuri sawah-sawah yang menghijau, berbincang-bincang kecil dengan para petani yang telah memulai kegiatan mereka di sawah.

Gerbong yang digunakan oleh KGPAA. MANGKUNEOGORO IV saat meresmikan KG.Tasikmadu

Karena kamera yang saya gantungkan di pundak saya, karena memang berniat untuk hunting pagi itu, di kira saya adalah dari Dinas Pertanian, yang mengambil foto untuk pengurusan limbah yang disebabkan oleh pabrik gula tersebut.  Agak kecewa saat mengetahui saya bukanlah orang yang mereka maksud. 

Jam 7 lewat saya kembali ke lokasi PG, sempat bertemu dengan petugasnya, namun dia menganjurkan untuk datang lagi jam 8. Saya patuhi dan kembali pada waktu yang dijanjikan, namun petugas yang menjanjikan itu tidak terlihat lagi. Disarankan untuk menuju ke kantor yang mengurusi Agrowisata Sundokoro itu. 

Saya mematuhi dan berjalan menuju kantor yang terletak agak tersembunyi.  Sesampainya disana, beberapa orang yang berada di kantor itu, berbincang-bincang sendiri, saya tidak tahu apakah mereka itu adalah pegawai PG ataukah tamu yang mengantri. Di sudut ada sebuah meja dan sedang melayani seorang tamu yang sedang membayar.  Petugas itu tidak sekalipun menengadahkan kepalanya untuk menyadari kehadiran saya di sana.  Karena waktu pemotretan yang kurang menguntungkan, karena hari telah beranjak siang, saya lalu mengurungkan niat untuk “touring” kedalam PG. tersebut, yang di jaga begitu ketatnya oleh sejumlah petugas keamanan.

Walau berbalut kekecewaan karena gagal untuk tour kedalam pabrik gula tersebut, kendati bangunannya begitu megah, seakan membawa kembali pada masa keemasan pabrik gula tersebut. Selalu akan ada hari esok untuk melakukan sesuatu yang tertunda. Mungkin untuk lancarnya kunjungan wisata ini, sebaiknya datang saat siang hari, sehingga petugas benar-benar siap dalam menjalankan tugasnya.  Early bird tidak rupanya tidak berlaku disana, atau mungkin waktu terbaik untuk mengunjungi tempat itu adalah pada saat dimulainya musim giling tebu, dimana ada yang namanya manten tebu, di mana ada perayaan yang mewarnai mulainya penggilingan dan juga sebagai rasa syukur rakyat yang panen tebu-tebu mereka.

Andaikata mereka mengelola tour ini lebih profesional dan marketing yang lebih baik, saya yakin tour ke PG ini akan menjadi pilihan tempat wisata bagi pengunjung, baik lokal, nasional maupun internasional.  Selain untuk menambah pengetahuan tentang proses tekniknya, namun juga akan membangkitkan kebanggaan terhadap kejayaan Indonesia, serta pengertian yang lebih akan sejarah, yang dapat membangkitkan semangat kebangsaan dalam menyikapi satu abad Kebangkitan Nasional bagi generasi muda Indonesia. Kelihatannya mereka masih harus banyak berbenah dalam masalah ini. 

 Kereta kuda yang digunakan oleh MN.IV
saat meresmikan PG. Tasikmadu

Semoga akan lebih baik di masa mendatang.  Ternyata tidak mudah untuk sekedar berwisata di pabrik gula peninggalan raja Pura Mangkunegaran yang terkenal kepiawaiannya dalam ekonomi, enterpreneur, ulama dan juga pujangga yang karyanya telah diakui oleh dunia.

Mengutip dari KGPAA. Mangkunegoro IV dalam konteks pembangunan pabrik gula ini :

“Pabrik gula iki openana. Sanadyan ora nyugihi, nanging nguripi.

Kinarya papan pangupa jiwane kawula dasih.”

(Peliharalah pabrik gula ini dengan baik, meskipun tidak memberi kekayaan,

namun dapat menghidupi dan merupakan sawah ladang

para karyawan dan masyarakat sekitar).  

 

Posted by: connie lianto | Mei 18, 2008

BIS PATAS EKA

Karena selesai kegiatan di Yogyakarta sudah malam, kereta api Prameks sudah tidak beroperasi lagi, maka kuputuskan untuk menggunakan jasa bis patas Eka, walaupun menurut referensi / input yang masuk, di terminal banyak copet dan kriminal. Diam-diam rasanya was-was juga, namun jiwa petualang tidak bisa dibendung. 

Sesampai di terminal Yogyakarta yang besar dan kokoh itu, agak celingukan juga, maklum baru pertama kali menginjakkan kaki disana, kalau lewat depannya sudah sering.  Tanya kesana kesini, akhirnya sampai juga di pemberhentian bis patas yang menuju ke Solo.  Memang penerangannya agak kurang, sehingga terkesan agak suram pada saat malam dimana penumpang sudah sepi.  Segera memergoki bis Eka yang dengan setia menunggu penumpangnya, langsung aku naik dan mencari tempat duduk, di depan, tepatnya dibelakang supir. Segera mapan di tempat duduk pilihanku, kukeluarkan ipod, walaupun tivi di bis menanyangkang acara tivi nasional (hebat juga ya entertainment systemnya).  Bis yang bersih dan AC yang dingin menambah kenyamanan, walaupun tetap ada rasa was-was (maklumlah baru pertama kali, kurang pengalaman). 

Sebentar kemudian bis mulai bergerak meninggalkan terminal, tivi masih terus hidup. Kenek bis dengan sigap mendatangi satu-satu penumpangnya untuk menarik bayaran, sembilan ribu rupiah dan tidak lupa memberikan selembar karcis berwarna hijau sebagai tanda bukti pembayaran.  Managemen yang rapi. Selesai dengan tugas karcis, kenek mengambil nampan dan mengisinya dengan air mineral sebanyak penumpang yang di dalam bis itu, serta membagikannya ke masing-masing penumpang.  Wow…good service! Aku tersenyum sendiri dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Bis terus melaju dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru dan urakan. Tivi dimatikan, demikian juga lampunya.  Keadaan jadi sepi, hanya terdengar deruman mesin diesel dan sekali-kali supir berbicara dengan kenek yang duduk di sebelah kirinya. 

Sekitar sembilan puluh menit, bis sampai di kota Solo, dimana aku akan turun.  Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, maka aku minta diturunkan di Jalan Adisucipto, di depan sekolah Ursulin. Supir bis menghentikan bisnya sesuai dengan kemauanku, aku melangkah turun, mengucapkan terima kasih dan menuju ke mobil yang telah menungguku. Ya, aku di jemput oleh suami. 

Ternyata naik bis patas itu tidak menyeramkan. Semoga terminal Solo juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penumpangnya, serta kebersihan juga, seperti yang telah dilakukan oleh kota tetangganya, Yogyakarta.  Sehingga masyarakat luas dapat menggunakan fasilitas yang disediakan tanpa was-was dan ragu.  Maka, kita bisa menyumbangkan penghematan energi dalam rangka Global warming. Tidak hanya berupa spanduk, lips service dan propaganda semu, tanpa ada realisasi yang real.

Posted by: connie lianto | Mei 18, 2008

PRAMEKS

Karena suatu kegiatan, maka dalam waktu dua bulan ini, dua kali seminggu saya harus melakukan perjalanan dari Solo ke Yogyakarta, yang berjarak 65 km, dapat di tempuh dalam waktu 90 menit, tergantung keadaan lalu lintas.

Dalam rangka mengirit bbm yang konon dikabarkan akan naik harganya, maka saya memutuskan untuk memakai jasa KA. Prameks (= Prambanan Ekspress) yang mempunyai jadwal yang cukup sering untuk rute tersebut.  Pertama kali pada saat saya menaiki gerbong yang di cat warna kuning terang itu, agak was-was juga, karena pernah mendengar dari teman-teman bahwa sering ada copet yang berkeliaran di dalam gerbong. 

Interior gerbong selayaknya MRT di Singapur atau subway, dua baris tempat duduk dari bahan fiber, pintu dan injakan kaki otomatis.  Bedanya, Prameks memanfaatkan “AC” (angin cendela), namun saya tidak merasakan panas sepanjang perjalanan, karena jendela-jendela yang berjejer di atas tempat duduk terbuka maksimal.  Lantai yang bersih, petugas karcis yang tegas dan lugas juga menambah kenyamanan di dalam kereta. Belum lagi sat-pam yang senantiasa mondar mandir di sepanjang gerbong, juga ada dua petugas yang mendorong “cart” kecil yang berisi aneka minuman dan makanan ringan, dilengkapi dengan bel sepeda kecil, yang dibunyikan saat melintasi para penumpang. 

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 45 menit itu melewati persawahan yang membentang, kadang terlihat bukit-bukit dikejauhan, menjadi bonus tersendiri.  Kereta ini hanya berhenti di stasiun Solo, Klaten dan Yogyakarta.  (walaupun ada yang jurusan Solo-Kutoarjo, tetapi saya tidak begitu mengerti jalurnya).  Tepat waktu berangkat adalah suatu prestasi PT. KAI yang perlu diacungkan jempol, sehingga penumpang tidak terganggu jadwal dan aktifitas mereka. 

Sungguh suatu terobosan yang praktis bagi masyarakat yang punya kepentingan mengunjungi kedua kota tersebut, selain juga pengiritan yang signifikan tentunya.  Cukup dengan merogoh kocek sebesar tujuh ribu rupiah saja, sudah dapat sampai di tujuan.  Apabila dibandingkan dengan mengendarai mobil sendiri, maka setidaknya memerlukan seratus lima puluh ribu untuk biaya bensin.  Perbedaan biaya yang mencolok, belum lagi pengiritan waktu dan resiko membawa kendaraan sendiri.

Kebersihan di gerbong juga harus di dukung oleh penumpangnya untuk tidak membuang sampah sembarangan di lantai, seperti yang pernah saya amati beberapa waktu yang lalu, dimana satu keluarga muda, dengan dua putri yang masih kecil.  Orang tua mereka terlihat intelek, ayahnya tenggelam membaca di barisan tempat duduk di depan ibu dan anak-anaknya. Agar tidak rewel dan bosan, maka si ibu membukakan makanan ringan “Taro” kepada anaknya. Dalam mengambil snack tersebut, ada beberapa yang tercecer di lantai. Setelah habis makanan itu dengan ringannya, si ibu menjatuhkan bungkus makanan ringan itu ke lantai.  Maka, terjadilah pemandangan yang tidak seindah bukit dan persawahan yang disajikan di luar gerbong. 

Sangat disayangkan hal itu terjadi, bahkan dari keluarga yang intelek.  Namun hal itu baru saya temui sekali dalam beberapa perjalanan yang saya lakukan dengan transportasi umum itu.  Semoga semakin banyak orang yang akan menyadari untuk memelihara kebersihan gerbong demi kepentingan bersama. 

Andaikata masyarakat luas menggunakan alat transportasi ini untuk bepergian kekedua kota tersebut, pasti penghembatan bbm akan sangat terasa, sehingga mungkin pemerintah tidak perlu selalu merevisi harga dan juga polusi yang disebabkan oleh kendaraan bermotor juga akan berkurang dengan drastis.  Belum lagi dapat meningkatkan kesejahteraan para pegawai dan petugas kereta api. 

Namun, masih ada segelintir kalangan yang berpikir, bahwa dengan menumpang transportasi umum yang tersedia, menurunkan gengsi mereka.  Konotasi bahwa kendaraan umum yang disediakan hanya untuk kalangan bawah.  Tanpa mempertimbangkan untuk lebih menyayangi bumi yang telah tua ini dengan cara yang sederhana, sehingga anak cucu kita dapat juga menikmati segala yang kita nikmati sekarang ini.

 

Konotasi bahwa Prameks itu kotor dan banyak copet sudah seharusnya dihilangkan, karena terlihat bahwa PT.KAI berusaha keras untuk merubah image yang sebelumnya bercokol pada jalur ini, sehingga mendapat tanggapan dan animo yang lebih daripada sekarang ini, sehingga jadwal dapat ditambahkan lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kedua kota tersebut.

Mungkin inilah salah satu cara kita dalam mengantisipasi kenaikan bbm dengan menggunakan skala prioritas dalam menyikapi peningkatan kebutuhan hidup dewasa ini.

 

 

 

Ternyata, dengan KA. PRAMEKS not bad at all….not bad at all !!!

 

JADWAL BERANGKAT PRAMEKS dari:

S O L O :

Jam : 05.45  ;  07.15  ;  08.45  ;  10.05  ;  11.40  ;  12.55  ;  14.50  ;  16.16  ;  17.45  ;  18.45

 

JOGYAKARTA :

Jam : 07.58  ; 09.30  ;  11.11  ;  12.30  ;  14.17  ;  15.05  ;  17.12

 

Posted by: connie lianto | Mei 6, 2008

LASEM

 

Menjelang waktu makan malam kami sampai di Lasem, setelah menempuh perjalanan yang panjang, kondisi jalan yang jelek, serta macet yang lumayan lama di daerah Welahan-Kudus dan Pati-Rembang.  Karena kami buta terhadap kota itu, maka muncul ide untuk berhenti dan mencari referensi untuk tempat makan dan menginap.

Kami memutuskan untuk bertanya di toko P&D, yang menjual berbagai makanan keci dan minuman, yang lumayan besar.  Di depan toko itu berkumpul tiga bapak yang sedang “kongkow”.  Mereka berlomba-lomba memberikan referensi tempat menginap dan rumah makan yang baik dan menurut mereka lebih baik kami kembali ke Rembang untuk menginap dan mengisi perut yang mulai “berbisik”.  Kota Rembang yang hanya berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Lasem, yang tadi sudah kami lewati. Akhirnya kami mengikuti saran mereka dan kembali ke Rembang dan menginap di hotel Kencana yang terletak di pusat kota, berdekatan dengan alun-alun.

Hotel kecil yang bersih, lengkap dengan AC, TV, Kulkas dan tempat tidur double dan single. Cukup untuk mengakomodir kami bertiga.  Setelah check-in, kami pergi kedaerah alun-alun untuk mencari makan malam.  Diseputar alun-alun begitu banyak makanan yang dijajakan.  Umumnya mereka menawarkan ayam goreng/bakar. 

Keesokan paginya kami kembali ke kota Lasem yang terkenal dengan batiknya yang unik, karena corak dan warna yang ditampilkan.  Tujuan pertama adalah ke pantai Lasem, yang merupakan pantai nelayan dengan kapal-kapal yang menyerupai “Jung” Cina, yang di cat warna-warni. Tersebar di sepanjang pantai.  Selain batik yang indah dan unik, ternyata Lasem juga menyimpan berbagai bangunan kuno yang tersebar di seluruh kota yang membuat mata dan lidah berdecak kagum.  Bangunan-bangunan yang begitu kental dengan arsitektur Cina, seakan sedang berada di negara tirai bambu. 

Di tambah lagi dengan keramahan penduduknya kepada pengunjung dari luar kota, sungguh memberikan kesan yang menyenangkan.  Kotanya yang kecil memungkinkan bagi para penduduk saling mengenal satu dengan yang lain.  Kerukunan dan pembauran dirasakan sangat kental, sehingga terasa harmonisasi dari penduduknya yang terdiri dari berbagai tingkatan sosial ekonomi.  Sopan santun dirasakan juga begitu kental dengan kehidupan mereka.  Tidak segan juga untuk menceritakan sejarah kota Lasem, seperti yang dilakukan oleh Bapak Sigit ketika menerima kami di rumahnya, kendati sebelumnya belum saling mengenal.  Juga tetangga beliau, Bapak Widji Soeharto sempat mengundang saya untuk mengambil foto di rumahnya yang ber-arsitektur Cina-Eropa.  Suatu keramahan yang langka pada jaman sekarang ini, dimana masyarakat cenderung apatis dan individualis.  Saya sempat canggung akan keramahan ini, yang merupakan satu kemewahan tersendiri.

Terdapat  kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Poo An Bio di Jalan Karangturi, Gie Yong Bio di Jalan Babagan. Ketiga kelenteng ini ukiran-ukiran Cina yang sangat halus, di sinyalir ukiran-ukiran tersebut dilakukan oleh pengukir-pengukir yang didatangkan dari daratan Cina.  Yang membedakan kelenteng Gie Yong Bio di Jalan Babagan dengan yang lainnya, adalah dengan berdirinya patung Raden Margono, Tan Kee Wie dan Oei Ing Kiat dimana mereka bahu-membahu melawan VOC pada tahun 1742.  Pemberontakan ini di kenal dengan nama Perang Godo Balik.

Kerukunan diantara masyarakat Lasem sudah tercipta beberapa abad yang lalu, selain masyarakat Tionghoa yang mayoritas beragama Kong Hu  Cu itu, mempunyai falsafah di empat penjuru benua adalah rumah/tempat tinggal dan setiap manusia adalah saudara, sesuai yang tersirat dalam kitab Kong Hu Cu.  Aspek-aspek inilah yang melatarbelakangi keramahan dari masyarakat Lasem pada umumnya. 

Ternyata tidak saja batik Lasem yang cantik, namun budi pekerti masyarakat Lasem juga tidak kalah cantiknya. 

Posted by: connie lianto | April 16, 2008

SOLO BATIK CARNIVAL

Hari Minggu, tanggal 13 April 2008 siang, pedestarian yang dikenal dengan “City Walk” di kota Solo, terlihat dipadati oleh masyarakat.  Sederetan kios-kios yang menawarkan berbagai produksi batik berjejer di sepanjang jalan protokol, Jalan Slamet Riyadi. Event ini dalam rangka mendukung Solo Batik Carnival yang rencananya di gelar pada puku 14.00 pada hari yang sama.

Keresahan dan kebosanan dalam menunggu.

Namun, sesuai dengan kebiasaan sosial di Indonesia, maka parade Solo Batik Carnival mengalami keterlambatan yang cukup signifikan, 1,5 jam dari jadwal.  Pada pukul 15.30 terlihat dua mobil pemadam kebakaran mengawalinya membuka jalan, di susul oleh dua mobil tanki dari PDAM yang bertugas untuk membasahi jalan protokol itu untuk mengurangi suhu aspal, guna keperluan karnival.  Di belakang tangki PDAM adalah mobil polisi sebagai penutup pelebaran jalan untuk keleluasaan para peserta carnival yang akan melewati jalan itu.  Masyarakat Solo begitu antusias menyambut acara ini, dengan sabar menunggu dan berjejer di sepanjang bahu jalan di bawah terik matahari.  Karena antusias masyarakat dan ketidak sabaran, maka hampir seluruh jalan tertutup oleh kerumunan dan tiada henti mereka menengok ke arah timur, dimana parade di mulai.

Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu

Ikut mengambil bagian dalam parade itu adalah Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu beserta ajudan dan staffnya, yang semuanya adalah perempuan, dengan menaiki kereta kencana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, juga beberapa tamu Pemerintah Kota Surakarta di kereta yang berlainan.  Kereta-kereta kuno dengan kondisi baik dan terpelihara, seakan membawa masyarakat kembali pada jaman dahulu kala, di tambah lagi dengan barisan para prajurit dengan kostum prajurit Jawa dengan senjata dan tombak.  Menteri Perdagangan menebarkan senyumnya kepada masyarakat yang berkerumun di pinggir jalan.  Sempat terdengar ada yang menyeletuk untuk menghimbau kepada Ibu Mari Pangestu untuk tidak menaikkan harga minyak goreng dan dijawab “Mudah-mudahan” sembari diiringi senyum.  Ada juga yang mendekati Ibu Menteri dan berdialog ringan dengan menyampaikan pada Ibu Menteri bahwa mereka juga berasal dari kota Semarang, dimana adalah juga merupakan kota asal Ibu Mari Pangestu. Spontanitas seperti itu merupakan satu kesempatan Ibu Menteri dalam menangkap keluhan dan masukan dari masyarakat Solo yang mereka sampaikan secara spontan. Semoga dapat dijadikan bahan pemikiran dalam mengambil langkah-langkah untuk kepentingan masyarakat luas.

Ide carnival batik ini adalah suatu langkah pemerintah kota Surakarta dalam mempromosikan batik sebagai komoditi dan usaha untuk memasyarakatkan pemakaian baju batik. Adakah aksi ini terinspirasi oleh ajaran Mahatma Gandhi dengan swadeshi, yang dimana dewasa ini telah terbukti kekuatannya bagi negara India.

Kereta Kencana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Interval dari satu rombongan ke rombongan yang lain menimbulkan kevakuman yang cenderung panjang, sehingga keselarasan dalam menampilkan karnival/parade terputus alur gambaran yang akan disampaikan.  Kevakuman itu mengubah antusiasme menjadi kebosanan dalam menunggu yang berkepanjangan.  Bayangan saya saat membaca judul “SOLO BATIK CARNIVAL” yang membuat pikiran saya melayang pada Carnival di Brazil ataupun yang di Pasadena (mungkin agak berlebihan ya!) menjadi sirna. 

Setelah penantian yang serasa tiada berujung itu, membuahkan kebosanan dan keletihan yang tidak bisa diungkapkan.  Dengan langkah gontai, saya meninggalkan parade “heboh”, menaiki sebuah becak yang membawa saya kembali ke Sasono Gondopuri, dimana kendaraan saya berada. Menuju pulang kerumah, sebelumnya meneguk dua gelas es jeruk, terasa menyegarkan tenggorokan yang telah mengering dari tadi.  Maklum, karena takut terlambat (saya lupa akan kebiasaan jam karet), dengan sigap stand by di kerumunan jam 14.00 sesuai dengan pemberitaan di radio dan yang terpampang di sepanjang jalan protokol Solo, Jalan Slamet Riyadi.  Semoga tahun mendatang, acara yang direncanakan akan diadakan setiap tahun dapat lebih profesional dan tepat waktu

Posted by: connie lianto | April 9, 2008

SD.SUBSIDI SUSTER SINGKAWANG

Sr. Bernardin Fransisca Kartini, SFIC

Sekolah Dasar Bersubsidi (SDS) SUSTER yang berada di kota Singkawang, Kalimantan Barat, menjadi salah satu sekolah dasar yang terbaik di kota itu.  Hampir sebagian besar anak usia sekolah dasar menimba ilmu di sana.  Sekolah ini telah meluluskan tak terhitung banyaknya murid yang kini tersebar di berbagai daerah dan negara.  Sekolah yang telah berdiri sejak dahulu kala (maaf, saya belum punya kesempatan menanyakan kapan sekolah ini berdiri).

Pertemuan dengan seorang teman dari suatu waktu yang singkat di masa lalu, membawa kenangan yang hampir pudar, namun juga membuahkan kegirangan yang tak terkatakan.  Kini, memasuki usia matang, dengan rambutnya yang telah mulai memutih, namun tetap dengan semangat kerasulan dan transparansi yang diusahakannya, dipercayakan oleh Yayasan untuk  memimpin SDS. SUSTER.  Disadarinya, dalam menjawab tantangan jaman yang semakin maju, sistim pendidikan yang baru, bukanlah sesuatu yang mudah dan dapat terwujud dalam sekejap mata, namun semangat yang ada dalam dirinya membuatnya tidak lelah untuk berusaha keras dalam misi mencerdaskan anak didiknya menjadi manusia muda yang mandiri dan bertanggung jawab.

 

Dalam menjawab tantangan jaman dan penambahan kebutuhan ajar-mengajar di sekolah ini, maka pihak sekolah berpendapat, sudah waktunya untuk menambah gedung baru yang bertingkat, mengingat pada musim hujan, deretan kelas seperti yang terpampang di atas ini sering banjir, karena volume air yang banyak dan lantai sekolah sejajar dengan lapangan.  Selain itu kebutuhan akan lapangan sepak bola dirasakan perlu dalam menunjang kegiatan extra kurikuler yang digandrungi oleh anak-anak didik. 

Dalam waktu dekat ini, gedung sekolah yang lama (seperti yang terlihat pada foto di atas) hanya akan menjadi kenangan bagi para murid dan para alumni dan digantikan dengan lapangan sepak bola, selain juga di nilai mengganggu estetika gedung bertingkat yang terletak dibelakang gedung tua ini. 

Ada rasa romantisme dan sentimentalisme ketika mengetahui program penghilangan gedung tua yang pasti banyak membawa kenangan bagi para alumni. Namun, mungkin pihak sekolah tidak dapat lagi mempertahankan gedung ini, mengingat tuntutan dunia pendidikan yang semakin hari semakin berkembang.  Maka, sisi romantisme dan sentimentalisme haruslah dikorbankan untuk menunjang tuntutan dewasa ini, sesuai dengan perkembangan jaman.

Pemandangan di atas bukanlah yang asing bagi para alumni sekolah ini.  Pohon tua yang rindang, namun dengan bentuk yang unik, memberikan rasa sejuk dan asri.  Segera pohon inipun akan menjadi kenangan. Keceriaan anak-anak bermain disekitarnya, bahkan banyak yang berusaha memanjat, sebagai bentuk dari explorasi bocah juga segera akan digantikan oleh modernisasi tuntutan jaman.

Artikel ini saya persembahkan bagi para alumni SDS.SUSTER SINGKAWANG.  Walau memang tidaklah rinci dan detail dalam mengupas keberadaan sekolah ini sekarang, namun lebih saya tekankan pada gedung yang segera akan digantikan oleh gedung megah yang bertingkat yang terletak dibelakang gedung tua yang pendek ini, namun telah begitu banyak jasanya dalam mencerdaskan manusia Indonesia, khususnya warga kota Singkawang, Kalimantan Barat, walalupun tidak lagi dia berdiri pada kesempatan lain, saat kita mengunjunginya, namun bagi para alumni, akan selalu mengingat detail bangunan ini  dengan jelas beserta segala kenangan pada masa kecil mereka. 

 

Posted by: connie lianto | Maret 16, 2008

SEKILAS TENTANG RUMAH SAKIT KHUSUS ALVERNO

408_0804.jpg

408_0804.jpg

Pada tanggal 17 November 1925, di atas lahan milik Keuskupan Agung Pontianak, seluas 2 hektare yang terletak di Jalan Gunung
Sari, Singkawang, berdirilah Rumah Sakit Khusus Kusta Alverno, yang pengelolaannya dipercayakan kepada Kongregasi Suster Fransiskanes Imacullate Conception (SFIC).  Keadaan sekitarnya begitu alami, dikelilingi tanaman hijau yang asri, bunga bougenville dan lainnya tumbuh subur.  Rumah biara yang seluruhnya dibangun dengan kayu ulin yang hitam, yang terleta
k di bagian atas, dapat melihat ke seluruh penjuru areal rumah sakit. Suara burung yang sekali-kali memecah keheningan tempat ini, membuat betah siapapun yang datang bertandang kesini.  Taman yang indah yang mengelilingi tempat ini, semuanya dikerjakan oleh para eks pasien yang telah sembuh.  Jalan beraspal yang mulus, bangsal-bangsal yang bersih dan rapi, selaras dengan gunung sari dan hutan lindung yang mengelilinginya. Sekilas suasanannya bagaikan rumah retret. 

 

 

RUMAH SAKIT KHUSUS ALVERNO

 

Jumlah pasien yang di rumah sakit ini berjumlah 40an dan semuanya telah sembuh total.  Namun, mereka tetap berada di sana kendati telah sembuh, karena tidak pernah di tengok oleh sanak keluarga.  Sehingga nyaris para suster pengelola dan sesama penderita kusta menjadi keluarga mereka. Keluarga mereka malu terhadap penyakit yang dideritanya, walaupun telah dinyatakan sembuh secara medis.  Namun tetap menjadi momok yang menakutkan dan memalukan bagi keluarga penderita.  Oleh sebab itu, setiap hari minggu, Sr. Bernardin Fransisca Kartini, SFIC menyempatkan untuk memberi siraman rohani, untuk menguatkan mental mereka yang terpuruk karena rasa minder dan hina, disamping kesibukannya sebagai kepala sekolah SD.SUSTER Singkawang.  Sayang, saya tidak mempunyai kesempatan ikut mendengarkan materi yang disampaikannya, karena pada saat kunjungan saya, tidaklah bertepatan dengan hari minggu. Hujan yang mengguyur sepanjang sore itu membuat saya tidak dapat mengelilingi bagian-bagian bangunan itu, melainkan hanya dapat melihat dari luar saja. 

Saat ini ada empat suster yang menetap di biara tersebut, yaitu Sr. Edmunda,SFIC yang bertugas mengurus rumah tangga biara, Sr. Angelita,SFIC, yang bertugas di rumah sakit Khusus Alverno, Sr. Bernardin Fransisca Kartini,SFIC sebagai kepala sekolah SD.Suster Singkawang dan Sr. Yasinta,SFIC sebagai kepala sekolah TK.SUSTER Singkawang.

Pada suatu sore, hujan yang tiada henti mengguyur kota Singkawang, juga daerah Gunung Sari, suster Angelita  yang baru saja pulang dari bertugas di Rumah Sakit Alverno mengatakan baru selesai operasi, namun beliau tidak menjelaskan lebih rinci tentang itu. Terlihat kelelahan di raut wajahnya. Namun ada ketulusan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

408_0827.jpg

Kecerian Suster Yasintha sebagai suster yang termuda di biara senantiasa menambah warna dalam kehidupan biara.  Ketulusan dan pengabdian mereka masing-masing dalam karya kerasulan mereka memberikan kontribusi bagi masyarakat Singkawang. Terima kasih atas pengabdiannya. Terima kasih atas cintanya pada manusia yang terisolasi dari keluarga dan masyarakatnya.

Posted by: connie lianto | Januari 23, 2008

SIKKA

Gereja di Sikka

Desa Sikka di tempuh dengan jalan darat, tidak terlalu jauh dari kota Maumere.  Letakknya di pesisir pantai.  Memasuki desa itu, kami melewati pinggir pantai.  Dengan melewati  tanda salib yang besar dari kayu, menurut cerita, salib itu telah berdiri sejak dahulu kala, disinyalir sebagai peninggalan portugis, juga melalui sederet panjang rumah panggung yang terletak disepanjang jalan. 

Sampai di ujung desa, terlihatlah gereja katolik yang paling tua di Flores,  bangunan khas gereja ala Portugis yang terbuat dari kayu.  Dari luar, bangunan gereja itu tidaklah berbeda dengan gereja lainnya di Flores.  Gedung paroki yang merupakan rumah pastor berhadapan dengan bangunan gereja.  Kami masuk ke gereja itu yang tidak terkunci, keindahan bangunan ini terkuak.  Yang paling menonjol dari bangunan ini adalah langit-langit gereja yang begitu unik dengan permainan usuk dari kayu yang melintang indah.  Tiang-tiang kayu penyanggah bangunan berjejer rapi di sebelah kiri dan kanan bangunan juga memberi sentuhan indah pada bangunan ini.  Terkesima! itu yang dapat saya ungkapkan.  Bangku-bangku umat juga tertata rapi.  Kayu-kayu kuno yang besar-besar dijadikan pilar bangunan itu.  Altar yang unik dan kuno.  Semuanya dalam keadaan baik.  Patung-patung yang menjadi salah satu ciri khas gereja katolik menandakan keuzuran dari gereja ini.  Deburan ombak dikejauhan menambahkan suasana kekhusyukan suasana.  Sayang, pada saat kami datang tidak ada kegiatan misa disana.  Pastor paroki juga tidak berada di tempat, menurut informasi yang kami terima dari seorang penduduk disana, beliau sedang berkunjung ke desa lain, salah satu kegiatan pastoralnya.  Di gereja ini hanya terdapat satu pastor untuk melayani umat. 

Menikmati keindahan gereja ini terganggu oleh kerumunan anak-anak yang mengikuti kemanapun kita berjalan untuk sekedar meminta uang dengan berbagai dalih, untuk sekolah, untuk beli buku.  Ada satu anak yang berusaha menawarkan jasanya dengan mengomentari segala yang kita lakukan.  Puas menikmati keindahan itu, aku melangkah keluar ke gereja dengan diikuti “dayang-dayang” kecil :) dibarengi “endless chanting” tentang kebutuhan membeli buku.  Betapa terkejutnya sesampainya aku diluar gereja, ternyata telah menunggu ibu-ibu yang siap dengan kain tenunnya ditangan, sambil duduk-duduk mereka dipelataran gereja.  Namun, tidak secara langsung mereka menawarkan, rupanya ada pembicara yang ditunjuk untuk menjawab pertanyaan ataupun bercerita tentang gereja tersebut.  Di sela-sela “menjadi guide” dia  juga menawarkan kain ikat yang mereka tenun sendiri. Kami menolak dengan halus, berpamitan, setelah menumpang kamar mandi pastor :) Menaiki mobil sewaan kami dan masih diikuti oleh para dayang dayang kecil yang tetap chanting dengan setianya.  Kurogoh kantongku, memberikan yang mereka mau, segera diterima dan mereka lari menjauh dari kami. Wow, MAGIC!

Kami terganggu oleh mereka, namun kami mengerti kesulitan hidup yang semakin melilit membuat mereka mengemis.  Perjalanan keluar dari desa itu sempat membuat kami terdiam, ada rasa iba dan sedih yang menguak.  Kemiskinan yang menyakitkan.  Salah satu cara yang mereka tahu adalah dengan meminta pada pengunjung, menawarkan kain ikat hasil tangan mereka sendiri.  Hanya itu yang mereka tahu.

Sore telah mengintip saat kami memacu mobil meninggalkan tempat itu.  Rasa kagum, “ngenes” dan sedih bercampur jadi satu, menyebabkan kami terdiam sekelumit waktu. Begitu kontras perasaan itu, begitu beragamnya hidup manusia ini.

 

 

Older Posts »

Kategori