Oleh: connie lianto | Februari 11, 2009

WAJAH BARU TAMAN BALEKAMBANG

img_08431 

Kota Solo mulai menata dan mempercantik dirinya, dari pemberdayaan aset keindahan yang telah dimiliki sebelumnya, namun terbengkalai karena ketidakpedulian sebelumnya.  Salah satu yang telah selesai diperbaharui adalah Taman Balekambang, yang dalam beberapa dasawarsa terakhir menjadi tempat hiburan malam, yang selalu mendapat cibiran dari masyarakat Solo.

 

Taman yang di bangun oleh KGPAA. Mangkunegoro VII pada tanggal 26 Oktober 1921, luasnya hampir mencapai 10 hektare terdiri dari dua bagian, yaitu area danau dinamakan Partinituin (Taman Partini).  Bagian yang lain adalah taman yang dipenuhi oleh pohon-pohon, dinamakan Partinahbos (Hutan Partinah). Taman itu sebagai perwujudan cinta KGPAA. Mangkunegoro VII kepada kedua putrinya.  Namun dalam perjalanan sejarah, lebih di kenal dengan nama Balekambang (Rumah mengapung).

 

Balekambang

Peresmian revitalisasi Taman Balekambang dilakukan pada saat World Heritage Cities Conference and Expo,  yang dipusatkan di Solo, ditandai dengan digelarnya Gala Dinner oleh tuan rumah, Pemerintah Kota Solo.  Kini, taman itu telah dikembalikan pada keasliannya, sesuai dengan maksud dari pembangunan tersebut.  Di samping bertujuan untuk  keasrian dan keindahan kota, juga dimaksudkan untuk paru-paru kota, yang dirasakan sangat dibutuhkan untuk kota yang sedang berkembang maju diberbagai sektor.

 

Decak kagum dan keheranan juga disampaikan oleh Puan Maharani, dalam kunjungannya di jeda waktu berlangsungnya RAKERNAS PDIP di Solo, beberapa saat yang lalu, dimana taman di tengah kota sudah langka diberbagai kota besar di Indonesia, bahkan segaimana penuturan penanggung jawab taman, warisan dari KGPAA. Mangkunegoro VII ini adalah merupakan satu-satunya taman yang berada di seluruh Propinsi Jawa Tengah. Rakyat Solo patut berbangga mempunyai asset yang langka di bumi Indonesia ini.

 

B.R.A. Partini

Di taman rimbun ini, terbuka untuk dikunjungi dari pukul 07.00 sampai dengan 18.00, dimana kita dimanjakan oleh kesejukan angin yang menerpa, kelincahan dan kemolekan sekelompok burung merpati putih, kicauan burung bagaikan nyanyian merdu di telinga pengunjung, serta tiga ekor kijang jinak juga terlihat berkeliaran bebas dan tidak ketinggalan, tanaman-tanaman langka yang tersebar di areal taman.  Terdapat pula beberapa bangunan, seperti rumah apung,  amphi theater yang mampu menampung sekitar 400 penonton, gedung kesenian  dan dua buah batu Meteor yang diletakkan berjauhan. kolam ikan, patung B.R.A. Partinah, terlihat anggun dengan pakaian Jawa, berpose duduk,  dan membawa kipas diletakkan di tengah kolam yang menjadi sentral taman. Sedangkan di tengah danau buatan, berdiri patung sosok B.R.A. Partini, berdiri tegak dengan memakai busana Jawa.  Disediakan pula kursi-kursi taman, lengkap dengan mejanya, tersebar di setiap sudut areal taman. Jalan setapak yang cukup lebar dari bahan paving melingkari taman, sehingga pengunjung dapat dengan bebas melakukan jogging atau hanya sekedar mengelilingi untuk menikmati keteduhan di sana. 

 

Pemerintah kota Surakarta patut diacungi jempol atas usaha pelestarian dan revitalisasi ini, dimana tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. Namun mulai terlihat di sana-sini coretan tangan jahil memenuhi kursi dan meja taman, juga sampah mulai menodai keindahannya.  Kebiasaan masyarakat kita yang kurang menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan kebersihan tempat publik sangatlah disayangkan.  Namun pengawas taman juga bertindak tegas, apabila memergoki keisengan yang dilakukan para muda yang berkunjung di sana.   

 

Saat hati gundah atau hanya sekedar menyapa keheningan, taman Balekambang merupakan tempat yang selaras dan  nyaman untuk melepaskan diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan,.  Semoga kita dapat ikut memelihara peninggalan yang menjadi kebangaan  bersama,  demi kota tercinta ini, yang mulai dipenuhi oleh Mall dan sarana konsumtif lainnya.

 

img_0851

Oleh: connie lianto | Desember 15, 2008

MUSEUM JAKARTA

Stadhuis jaman VOC

Stadhuis jaman VOC

Museum Jakarta terletak di bagian kota, Jakarta Barat.  Pada jaman VOC, gedung itu dikenal sebagai STADHUIS, dimana menjadi pusat pemerintahan Belanda di indonesia. Kini, masih berdiri dengan tegak menantang jaman. 

Bangunan yang bertingkat 2 menghadap ke square yang cukup luas, konon disitulah eksekusi hukum gantung dilaksanakan untuk para kriminal dan musuh VOC, yang biasanya dihadiri oleh masyarakat luas dan para petinggi VOC, menyaksikan  dari jendela balkon yang berada ditengah gedung tersebut. 

Bahan yang digunakan di gedung itu, merupakan bahan yang istimewa, kayu-kayu jati yang tebal dengan diameter sekitar 40cm menyangga bangunan itu, dipadu dengan tembok-tembok besar dan tebal, rangka pintu dan daun pintu dari kayu jati pilihan yang kualitas terbaik pula.  Papan-papan lebar, sekitar 30-40cm menghiasi lantai-lantai di bangunan itu. Di dominir dengan cat berwarna merah pada rangka dan daun pintu, juga balister tangga yang seluruhnya dari kayu jati, yang ukuran dan kualitasnya telah punah kini. 

Tangga dari kayu jati pilihan

Walaupun telah sekian abad gedung itu berdiri tegak di kota Jakarta, namun aura keangkuhan masih sangat terasa, sekalipun gedung itu telah berubah fungsi sebagai museum sejarah Jakarta, di pajang berbagai mebel peninggalan VOC, seperti lemari arsip raksasa, kursi dan meja rapat, tempat tidur, pedang, dan sebagainya. yang semuanya membuat para pengagum barang antik berdecak kagum akan bahan dan keindahannya.  Bisa dibayangkan bagaimana pada jaman itu, para penjajah negara ini hidup berkelimpahan di tengah masyarakatnya yang hidup serba kesulitan dan kekurangan. 

Lemari Arsip

Lemari Arsip

 
Juga dipamerkan jaman pra VOC, yaitu saat Portugis menguasai Indonesia, lengkap dengan batu peringatan dan miniatur kapal Portugis yang berlabuh di tanah Indonesia.  Bangunan dan koleksi yang ada di museum itu, membawa kita menerawang jauh kembali ke abad 17, jaman VOC menguasai Indonesia. Membayangkan kesibukan, kostum yang dipakai era itu, kericuhan yang terjadi saat menjelang eksekusi para kriminal di lapangan kota.  Semua itu dapat kita saksikan dalam angan dan pikiran.  Saat menyelusuri ruangan-ruangan besar dan kokoh, dengan plafon yang tinggi itu, terbersit dalam pikiranku, suatu saat dulu gedung ini menjadi yang paling ditakuti dan disegani oleh seantero Batavia dan Jawa, mungkin juga Indonesia secara keseluruhan. Dalam benak mencoba untuk menjangkau era kolonial yang terkenal dengan kekejamannya, seperti pembantaian orang Tionghoa yang korbannya mencapai lebih kurang 10.000 jiwa, keputusan-keputusan yang dilakukan di gedung ini dalam menumpas pemberontakan yang dilakukan Kapitan Sepanjang, Pangeran Samber Nyawa, siksaan yang dilakukan terhadap Ni Hu Kong, kapiten Tionghoa yang dituduh memotori pemberontakan orang Tionghoa di Batavia dan sederet peristiwa sejarah lainnya.  Membuat hati miris atas segala penderitaan yang mereka alami. 
 
Maskot VOC

Maskot VOC

Saat mengunjunginya, banyak sekalah para siswa dari berbagai SD sampai SMA yang datang mengunjungi museum tersebut.  Masing-masing dari mereka membawa sebuah catatan dan sibuk mencatat keterangan-keterangan singkat yang berada di depan objek.  Sayangnya banyak dari mereka yang tidak mengerti tentang asal usul keberadaan gedung ini dan gunanya pada saat itu.  Banyak dari mereka yang sibuk berfoto dengan teman-temannya dengan berbagai gaya dengan handphone masing-masing.  Bergantian mereka mengabadikan gambar masing-masing.  Keadaan ini dapat di mengerti karena begitu minimnya keterangan tentang sejarah gedung ini, bahkan tidak saya dapatkan sama sekali tentang keterangan apapun tentang gedung ini.  Yang banyak saya dapati adalah keterangan bahan dan era dari suatu artifaks atau mebel yang dipajang di ruangan-ruangan.  Sehingga sekilas, museum kota Jakarta seperti galeri barang-barang antik.  Andaikata di buat visualisasi kamar kerja JP. Coen sebagai salah seorang gubernur jenderal VOC yang terkenal dan fungsi masing-masing ruangan yang ada disana, pastilah para siswa yang berkunjung akan mendapatkan pengetahuan lebih dan tidak hanya sekedar berpose di depan kamera handphone mereka. 

Informasi yang sangat minim tentang gedung tersebut sangatlah saya sayangkan, karena bagi pengunjung yang tidak begitu mengerti tentang sejarah Indonesia di bawah VOC, hanyalah menjadi tempat berkunjung yang gratis dan mengagumi kemegahan gedung ini beserta segala ornamaen dan mebel yang dipajang didalamnya. 

img_9826

 

 

 

 

Ada ruangan bawah tanah yang di penuhi air yang cukup dalam, menurut saya adalah saluran air, agar tidak terjadi banjir, seperti pada umumnya gedung-gedung jaman Belanda, seperti yang terdapat di Lawang Sewu, Semarang. Gelap dan terkesan angker saat melongok kedalamnya. 

 

 

 

 

 

 

 

Plakat Peresmian gedung VOC

Plakat Peresmian gedung VOC 1707

Pedang VOC

Semoga di masa mendatang akan lebih banyak informasi tentang gedung itu, sehingga tidak hanya sekedar untuk  wisata arsitektur, tapi juga dapat menambahkan pengetahuan pada pengunjungnya.  Dalam hal tidak memungut biaya apapun di museum tersebut, membuat segala lapisan masyarakat Jakarta dan Indonesia tidak ragu mendatanginya.  Sehingga semakin hari, semakin banyak masyarakat yang mengunjunginya.

 

img_9848

Oleh: connie lianto | Desember 13, 2008

KOTA TUA JAKARTA

KOTA TUA JAKARTA

 

 

 

 

 

Pada tanggal 30 Mei 1619, Jan Pieterszoon Coen berhasil menaklukkan Jayakarta. Ia merusak kota itu, membangun benteng Belanda di atas puing-puing, serta namanya serta merta di ubah  menjadi  Batavia.  Tanggal itu pula yang dijadikan hari Ulang Tahun Jakarta, yang sampai kini telah berusia 389 tahun.

Kota uzur yang usianya  hampir mencapai empat abad, dalam era modern sekarang ini, telah  mengalami perubahan dan pengembangan, serta pertumbuhan  yang cepat dalam berbagai hal, menjadi kota yang terpadat penduduknya, polusi udara juga mencapai tingkat yang cukup tinggi dan rawan banjir saat musim hujan tiba.   Kini, kota ini telah  berubah menjadi kota metropolitandan pusat pemerintahan negara Indonesia.  

jan_pieterszoon_coen

Jan Pieterszoon Coen

valckenier

Adriaan Valckenier

 

 

 

        

 

 

 

                                                                                                                                               

 

Di jaman pemerintahan Orde Baru, banyak gedung-gedung di Jakarta, yang merupakan peninggalan pemerintah Belanda dihancurkan, untuk digantikan dengan gedung-gedung bertingkat era modern.  Penghancuran yang dilakukan oleh pemerintah saat itu tidak pernah sekalipun mempertimbangkan baik dari sisi historikal maupun sisi estetika arsitekturalnya.  Namun hanya semata-mata karena kebutuhan akan space dan bangunan  yang lebih modern untuk mendukung pembangunan Jakarta yang mulai semrawut pada saat itu.

Saat mengunjungi kota tua Jakarta di daerah kota, yang dulunya merupakan pusat pemerintahan jaman Belanda dan juga pusat perdagangan dan kompleks kantor perusahaan orang-orang Belanda.  Sisa-sisa kemegahan dan keindahan bangunan tua masih dapat dinikmati, walaupun banyak diantaranya yang sudah tidak terurus dan hampir roboh.  Belum terlihat usaha untuk melestarikan bangunan-bangunan yang telah rusak parah itu oleh pemilik maupun pemerintah daerah setempat. Di kali besar, telah diadakan pengurukan untuk mengantisipasi luapan air saat musim hujan, juga dalam proses pembangunan trotoar untuk pejalan kaki dan juga taman di pinggir kali untuk masyarakat menikmati senja. 

KOTA TUA

Menyelusuri sepanjang jalan Kali Besar sambil membayangkan kemegahan bangunan yang sekarang tidak terurus, merupakan pengalaman tersendiri di siang hari yang cukup menyengat panasnya.  Di depan rumah yang dinamakan “Toko Merah” (Saya tidak tahu mengapa dinamankan seperti itu, karena tidak tercermin bentuk bangunannya seperti toko, mungkin karena bangunan itu jendela-jendela dengan kaca kotak-kotak berjejer rapi, sehingga orang mengasumsikan seperti etalase toko), membuat pikiran menerawang jauh kebelakang, menembus batas-batas pikiran dan imaginasi ke masa lalu.  Mungkin disinilah keputusan untuk melakukan aksi pembantaian orang-orang Cina di Batavia yang merupakan pelanggaran HAM yang terbesar saat itu.  Bangunan ini menjadi saksi bisu dari keputusan yang tidak manusiawi dari Gubernur Jenderal Batavia yang ke-25 saat itu yang bernama Adriaan Valckenier, yang memerintah dari tahun 1737-1740.  Bangunan yang bersejarah itu kini hanyalah menjadi bangunan usang yang didepannya terpampang plakat menandakan bahwa bangunan ini adalah merupakan cagar budaya.  Keadaan fisik yang sama sekali tidak terawat, kaca yang pecah, di dalamnya terdapat sampah-sampah kantong plastik. 

TOKO MERAH

TOKO MERAH

TOKO MERAH keadaannya kini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peninggalan bersejarah di daerah kota yang sudah memudar dan sudah banyak yang hancur, merupakan kerugian bagi generasi mendatang dalam mengenal sejarah Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya.  Semoga para pemilik gedung-gedung tua dan juga pemerintah daerah tanggap atas situasi ini, sehingga kota tua Jakarta dapat menjadi kawasan sejarah yang asri untuk dikunjungi sebelum terlambat.  

KOTA TUA JAKARTA

Oleh: connie lianto | Juli 5, 2008

SANG PROKLAMATOR

Sang Proklamator

Sang Proklamator

Kesempatan liburan kali ini terbersit rencana untuk mengunjungi makam sang proklamator, the founding father dari negara tercinta ini, Bung Karno.

Jarak dari kota Blitar ke makamnya tidaklah jauh untuk ditempuh. Parkiran mobil persis di depan pintu masuk kompleks makam.  Bangunan minimalis terdiri dari museum lukisan (atau lebih pada museum foto?) disebelah kiri dan perpustakaan di sebelah kanan. Sayang, perpustakaan sudah tutup pada saat kami sampai disana.  Void diantara dua bangunan itu terdapat patung Bung Karno yang besar, menghadap diagonal. Kompleks makam yang bersih dan tenang, memberikan kesan yang baik (hussle free) dalam benakku.  Disalah satu sudut terpampang kertas yang bertuliskan “Mengunjungi Makam Bung Karno tidak bayar”, alias gratis. Wah… ada kesalutan pada pemerintah daerah Blitar dalam hati.  Memang sudah semestinya mereka merawat makam itu, karena jasa yang disumbangkan pada negeri ini. SALUTE!

Kompleks Makam

 

 

Memasuki museum lukisan yang gelap gulita, pengunjung diharuskan untuk mengisi buku tamu. Dikatakan bahwa saat itu sedang mati lampu, sehingga tidak banyak yang dapat dilihat oleh pengunjung.  Sebelum memasuki makam, pengunjung diwajibkan untuk mengisi buku tamu lagi di “kantor” yang berada di sebelah kiri daripada gapura makam.  Namun kali ini dengan pesan : “Sumbangan sukarela”, pesan sponsor dari personil yang mengenakan seragam serupa dengan warna seragam PEMDA pada umumnya. Terhenyak! tulisan “tidak bayar” yang terpampang di gerbang masuk utama tadi apa?!!? Ah…..tadi kan saya sudah mengatakan itu sukarela….kalau tidak berkenan ya tidak apa-apa….Mungkin seperti itu kira-kira argumentasinya apabila dikonfrontir.  Karena orang yang mengisi buku tamu tidak memperhatikan tulisan “tidak bayar” maka dengan otomatis menyodorkan sejumlah uang kepada petugas tadi. Diterima dengan baik.

Peristirahatan kekal Putra Sang Fajar

Peristirahatan kekal Putra Sang Fajar

Kompleks makam bagian dalam dibangun model joglo yang terbuka yang pendek, lantai marmer. Batu nisan “diperkirakan” dari batu andesit yang besar, yang diambil dari gunung Kelud (demikian informasi yang diterima dari petugas disana).  Makam Bung Karno di dampingi oleh makam bapak dan ibunya yang terletak di kiri dan kanannya. 

Sudut joglo, ada beberapa orang yang duduk berselonjor sambil bercengkerama dan memperhatikan para pengunjung yang datang untuk berziarah.  Ternyata mereka adalah yang menawarkan jasa pada pengunjung untuk foto didepan makam, dengan camera pocket digital. 

Pintu masuk dan pintu keluar dibedakan, walaupun mobil diparkir di depan pintu masuk, namun diwajibkan bagi pengunjung untuk melewati pintu keluar yang berada dipenghujung dari pintu masuk. Pintu keluar terdiri dari lorong panjang di mana para penjual souvenir menawarkan dagangannya.  Setelah melewati lorong itu, pengunjung digiring dengan jalan berkelok-kelok yang tiada habisnya, layaknya permainan ular tangga, kiri kanan lorong yang tiada berkesudahan itu terdapat kios-kios souvenir dari kaos sampai pada centong. Setelah perjalanan yang berkelok-kelok dibelantara souvenir, sampai juga pada jalan raya. Sudah menunggu becak-becak yang berjejer rapi dipinggir jalan, menawarkan jasanya untuk mengantar ketempat parkiran bis ataupun mobil.

Becak

Becak

Kuputuskan untuk berjalan menuju parkiran mobil, ternyata letak pintu masuk dan “pintu keluar” sangatlah jauh. 

Ternyata di makam proklamator tidaklah gratis seperti yang terpampang di salah satu sudut tembok kompleks museum.  Di balik makam itu sengaja diciptakan “tourist trap” yang mengharuskan para pengunjung mengitari satu putaran besar dan menggunakan transport becak untuk menuju kembali ketempat parkiran. Tourist trap yang sengaja telah diciptakan oleh penguasa setempat.

Pembelajaran “gratis” di Blitar, khususnya di makam Sang Proklamator, membuat saya teringat pada idiom yang berbunyi “don’t judge a book by its cover”. Salute yang saya berikan diawal tulisan ini, saya tarik kembali. Mengingatkan saya pada komentar seorang sahabat tentang segala urusan yang ada di Indonesia, kalau memungkinkan untuk dipersulit, mengapa harus dipermudah? Komentar ini sangat berlaku di kompleks pemakaman Sang proklamator, founding father kita yang kita kagumi.

Nisan Sang Proklamator

Nisan Sang Proklamator

Oleh: connie lianto | Juni 18, 2008

Pasar Triwindu Solo

Pasar antik Triwindu menjadi salah satu keharusan untuk dikunjungi para tamu yang datang ke kota Solo, selain pasar Klewer yang terkenal dengan batiknya.  Pasar Triwindu merupakan “thrift market” yang unik, dengan menjual berbagai barang-barang kuno dan memoribilia, membawa kita kepada kehidupan pada masa lalu.

Lorong-lorong sempit, namun bersih, kios-kios yang dipenuhi berbagai macam barang kuno maupun barang-barang buatan baru memenuhi etalase dan space di setiap kios yang berada di kawasan itu.  Para pedagang duduk di “dingklik” (kursi kecil yang pendek) menanti pembeli di depan kiosnya, sambil bercerita dan bersenda gurau dengan pemilik kios yang lain. Kadang kala terdengar tawa canda, kadang pula saling menanyakan tentang penjualan pada hari itu, sembari sekali-kali menawarkan kepada tamu yang melewati kios mereka. Berburu barang-barang kuno, dari koin lama sampai pada gelas kristal di sana merupakan hal yang sungguh menyenangkan, walaupun komplek pasar tidaklah besar.

Pasar ini adalah hadiah ulang tahun yang kedua puluh empat dari GRAy. Nurul Khamaril, puteri Mangkunegoro VII. Selain nama Triwindu (Tri= tiga ; Windu= delapan), pasar ini juga di kenal dengan nama pasar Windu Jenar.Namun pasar triwindu yang terkesan unik itu, karena perpaduan antara barang antik, vintage dengan onderdil motor/mobil, juga alat-alat pertukangan dan pertanian. Mereka mempunyai blok tersendiri untuk ketiga jenis barang tersebut di atas. Pasar Triwindu termasuk salah satu aset budaya di kota Solo.

 

Namun dalam waktu yang dekat, pemerintah kota Solo merasa urgent dan perlu untuk merombak pasar tersebut secara total dengan tujuan untuk kenyamanan pengunjung.  Ada kemungkinan lorong-lorong hunting akan dihilangkan, kios-kios dari kayu juga lenyap, lantai semen akan digantikan oleh keramik modern, daun jendela lebar dari kayu yang mempunyai dwi fungsi, baik sebagai penutup jendela dan payon akan digantikan oleh plafon. Semua akan berubah. Ambience pasar antik tradisional akan segera sirna.  Suasana adem dan rindang karena payon-payon yang menjadi tudung dari sengatan matahari siang, cahaya-cahaya terobosan di dalam kios-kios hanya akan menjadi kenangan para pengunjung setia pasar tersebut.  Modernisasi akan merambah dan menggantikan suasana pasar jaman dahulu.

Pasar Triwindu harus mengalah dan menyerah pada era modernisasi pembangunan di kota Solo pada tahun 2008.  Yang tertinggal dari masa lalu hanyalah namanya saja.  Berbagai pro dan kontra, juga keresahan para pedagang disana tercermin pada hari-hari menjelang hari H dimana mereka diinstruksikan untuk pindah sementara ke bedeng-bedeng darurat yang disediakan oleh pemerintah kota Surakarta.  Suasana pasar terasa tegang, tidak seperti hari-hari sebelum tercetusnya ide perombakan total.  Wajah-wajah suram dan bingung menyelimuti mereka. Tidak lagi terdengar suara-suara ramah yang menawarkan barang-barang mereka, hanya ada resah dan khawatir yang tercermin di setiap pedagang di sana.  Mereka hanya mampu menempel poster-poster tulisan tangan di dinding-dinding sebagai tanda protes, pembicaraan dan keluh kesah diantara mereka, spanduk yang direntangkan dipinggir jalan salah satu gapura. Segala usaha yang dilakukan tidak meluluhkan hati para pembesar di Solo untuk merevisi rencana ini, terkesan mereka berteriak, namun tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan dalam menyuarakan keresahan ini. 

Warisan masa lalu oleh orang tua mereka disana segera akan terhapus oleh masa depan yang belum diketahui.  Satu lagi heritage yang hilang di terpa jaman. Namun para pakar sejarah dan budayawan Surakarta belum juga bersuara dalam mengemukakan pendapat mereka, seperti pada saat rencana pembangunan pasar Gede di Solo, ataupun wacana merombak pasar Klewer selayaknya mall.  Pasar Triwindu seakan tidak mampu meneruskan keresahan penghuninya kepada para pakar dan pemerhati di Solo. Akhirnya, di waktu yang singkat harus menyerah terhadap pemusnahan warisan aset budaya, cermin pasar tradisional dengan dalih penyempurnaan dan peningkatan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung.  Saatnya mengucapkan salam selamat tinggal kepada lorong-lorong, jendela dwi fungsi, payon-payon, pintu-pintu kayu, lantai semen dan suasana adem dan “rindang”, cahaya terobosan yang menyinari kios-kios.  Selamat tinggal warisan masa lalu……

Oleh: connie lianto | Juni 11, 2008

Pabrik Gula Tasikmadu, Karanganyar, Surakarta

KGPAA. MANGKUNEGORO IV

Walaupun pabrik gula Tasikmadu, Karanganyar masih beroperasi dalam mengolah tebu menjadi gula pasir, tetapi juga mengalami kemunduran dalam bisnisnya.  Pabrik gula yang yang dibangun oleh KGPAA. Mangkunegoro IV dalam melebarkan sayap bisnis beliau, namun pada jaman kemerdekaan Indonesia di ambil alih oleh pemerintah Indonesia, di bawah naungan PT. Perkebunan Nasional (Persero).  Adapun letak Pabrik Gula Tasikmadu, terletak di sebelah timur, berjarak sekitar 15 km dari kota Solo. 

Satu pagi yang masih gelap, kulajukan kendaran menuju PG (pabrik gula) Tasikmadu. Keinginan melihat keadaan sekitar pabrik itu, serta bangunan yang telah berdiri di sana sejak th. 1871 dan mengabadikannya dalam bentuk foto, maka kupilih waktu fajar menyingsing untuk dapat menghasilkan ambience foto yang baik. 

PG. Tasikmadu dari depan

Sesampainya disana, di sambut oleh para keamanan.  Melihat kamera yang tergantung di pundak, berasumsi bahwa saya adalah wartawan.  Setelah saya jelaskan bahwa hanya untuk dokumentasi pribadi.  Saya di “ijinkan” untuk melihat dan mengambil foto gerbong MN IV dan kereta kuda sederhana yang digunakan saat beliau meresmikan PG tersebut. Walaupun gerbong dan kereta berada di depan dan dengan akses masuk yang tidak terhalang, namun perlu juga “ijin khusus” untuk itu. Dengan di “antar” oleh petugas keamanan, saya akhirnya di “ijinkan” dan ditunggui dalam mengambil foto.

Agak mengurangi “comfort” saya dalam mengambil foto kedua benda bersejarah itu, namun tidak menjadi masalah, asal saya dapat mengabadikannya.  Berseberangan dengan PG ada sebuah taman di sana, namun belum diperbolehkan masuk, karena loketnya belum buka, harga tiket masuk yang tertera di loket adalah Rp. 2.000,- saja.  Untuk tour ke dalam pabrik, petugas keamanan menyarankan untuk kembali lagi sekitar jam 7 pagi, karena petugas belum datang. Sambil menunggu, saya menghabiskan waktu untuk mengitari daerah sekitar PG, menyelusuri sawah-sawah yang menghijau, berbincang-bincang kecil dengan para petani yang telah memulai kegiatan mereka di sawah.

Gerbong yang digunakan oleh KGPAA. MANGKUNEOGORO IV saat meresmikan KG.Tasikmadu

Karena kamera yang saya gantungkan di pundak saya, karena memang berniat untuk hunting pagi itu, di kira saya adalah dari Dinas Pertanian, yang mengambil foto untuk pengurusan limbah yang disebabkan oleh pabrik gula tersebut.  Agak kecewa saat mengetahui saya bukanlah orang yang mereka maksud. 

Jam 7 lewat saya kembali ke lokasi PG, sempat bertemu dengan petugasnya, namun dia menganjurkan untuk datang lagi jam 8. Saya patuhi dan kembali pada waktu yang dijanjikan, namun petugas yang menjanjikan itu tidak terlihat lagi. Disarankan untuk menuju ke kantor yang mengurusi Agrowisata Sundokoro itu. 

Saya mematuhi dan berjalan menuju kantor yang terletak agak tersembunyi.  Sesampainya disana, beberapa orang yang berada di kantor itu, berbincang-bincang sendiri, saya tidak tahu apakah mereka itu adalah pegawai PG ataukah tamu yang mengantri. Di sudut ada sebuah meja dan sedang melayani seorang tamu yang sedang membayar.  Petugas itu tidak sekalipun menengadahkan kepalanya untuk menyadari kehadiran saya di sana.  Karena waktu pemotretan yang kurang menguntungkan, karena hari telah beranjak siang, saya lalu mengurungkan niat untuk “touring” kedalam PG. tersebut, yang di jaga begitu ketatnya oleh sejumlah petugas keamanan.

Walau berbalut kekecewaan karena gagal untuk tour kedalam pabrik gula tersebut, kendati bangunannya begitu megah, seakan membawa kembali pada masa keemasan pabrik gula tersebut. Selalu akan ada hari esok untuk melakukan sesuatu yang tertunda. Mungkin untuk lancarnya kunjungan wisata ini, sebaiknya datang saat siang hari, sehingga petugas benar-benar siap dalam menjalankan tugasnya.  Early bird tidak rupanya tidak berlaku disana, atau mungkin waktu terbaik untuk mengunjungi tempat itu adalah pada saat dimulainya musim giling tebu, dimana ada yang namanya manten tebu, di mana ada perayaan yang mewarnai mulainya penggilingan dan juga sebagai rasa syukur rakyat yang panen tebu-tebu mereka.

Andaikata mereka mengelola tour ini lebih profesional dan marketing yang lebih baik, saya yakin tour ke PG ini akan menjadi pilihan tempat wisata bagi pengunjung, baik lokal, nasional maupun internasional.  Selain untuk menambah pengetahuan tentang proses tekniknya, namun juga akan membangkitkan kebanggaan terhadap kejayaan Indonesia, serta pengertian yang lebih akan sejarah, yang dapat membangkitkan semangat kebangsaan dalam menyikapi satu abad Kebangkitan Nasional bagi generasi muda Indonesia. Kelihatannya mereka masih harus banyak berbenah dalam masalah ini. 

 Kereta kuda yang digunakan oleh MN.IV
saat meresmikan PG. Tasikmadu

Semoga akan lebih baik di masa mendatang.  Ternyata tidak mudah untuk sekedar berwisata di pabrik gula peninggalan raja Pura Mangkunegaran yang terkenal kepiawaiannya dalam ekonomi, enterpreneur, ulama dan juga pujangga yang karyanya telah diakui oleh dunia.

Mengutip dari KGPAA. Mangkunegoro IV dalam konteks pembangunan pabrik gula ini :

“Pabrik gula iki openana. Sanadyan ora nyugihi, nanging nguripi.

Kinarya papan pangupa jiwane kawula dasih.”

(Peliharalah pabrik gula ini dengan baik, meskipun tidak memberi kekayaan,

namun dapat menghidupi dan merupakan sawah ladang

para karyawan dan masyarakat sekitar).  

 

Oleh: connie lianto | Mei 18, 2008

BIS PATAS EKA

Karena selesai kegiatan di Yogyakarta sudah malam, kereta api Prameks sudah tidak beroperasi lagi, maka kuputuskan untuk menggunakan jasa bis patas Eka, walaupun menurut referensi / input yang masuk, di terminal banyak copet dan kriminal. Diam-diam rasanya was-was juga, namun jiwa petualang tidak bisa dibendung. 

Sesampai di terminal Yogyakarta yang besar dan kokoh itu, agak celingukan juga, maklum baru pertama kali menginjakkan kaki disana, kalau lewat depannya sudah sering.  Tanya kesana kesini, akhirnya sampai juga di pemberhentian bis patas yang menuju ke Solo.  Memang penerangannya agak kurang, sehingga terkesan agak suram pada saat malam dimana penumpang sudah sepi.  Segera memergoki bis Eka yang dengan setia menunggu penumpangnya, langsung aku naik dan mencari tempat duduk, di depan, tepatnya dibelakang supir. Segera mapan di tempat duduk pilihanku, kukeluarkan ipod, walaupun tivi di bis menanyangkang acara tivi nasional (hebat juga ya entertainment systemnya).  Bis yang bersih dan AC yang dingin menambah kenyamanan, walaupun tetap ada rasa was-was (maklumlah baru pertama kali, kurang pengalaman). 

Sebentar kemudian bis mulai bergerak meninggalkan terminal, tivi masih terus hidup. Kenek bis dengan sigap mendatangi satu-satu penumpangnya untuk menarik bayaran, sembilan ribu rupiah dan tidak lupa memberikan selembar karcis berwarna hijau sebagai tanda bukti pembayaran.  Managemen yang rapi. Selesai dengan tugas karcis, kenek mengambil nampan dan mengisinya dengan air mineral sebanyak penumpang yang di dalam bis itu, serta membagikannya ke masing-masing penumpang.  Wow…good service! Aku tersenyum sendiri dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Bis terus melaju dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru dan urakan. Tivi dimatikan, demikian juga lampunya.  Keadaan jadi sepi, hanya terdengar deruman mesin diesel dan sekali-kali supir berbicara dengan kenek yang duduk di sebelah kirinya. 

Sekitar sembilan puluh menit, bis sampai di kota Solo, dimana aku akan turun.  Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, maka aku minta diturunkan di Jalan Adisucipto, di depan sekolah Ursulin. Supir bis menghentikan bisnya sesuai dengan kemauanku, aku melangkah turun, mengucapkan terima kasih dan menuju ke mobil yang telah menungguku. Ya, aku di jemput oleh suami. 

Ternyata naik bis patas itu tidak menyeramkan. Semoga terminal Solo juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penumpangnya, serta kebersihan juga, seperti yang telah dilakukan oleh kota tetangganya, Yogyakarta.  Sehingga masyarakat luas dapat menggunakan fasilitas yang disediakan tanpa was-was dan ragu.  Maka, kita bisa menyumbangkan penghematan energi dalam rangka Global warming. Tidak hanya berupa spanduk, lips service dan propaganda semu, tanpa ada realisasi yang real.

Oleh: connie lianto | Mei 18, 2008

PRAMEKS

Karena suatu kegiatan, maka dalam waktu dua bulan ini, dua kali seminggu saya harus melakukan perjalanan dari Solo ke Yogyakarta, yang berjarak 65 km, dapat di tempuh dalam waktu 90 menit, tergantung keadaan lalu lintas.

Dalam rangka mengirit bbm yang konon dikabarkan akan naik harganya, maka saya memutuskan untuk memakai jasa KA. Prameks (= Prambanan Ekspress) yang mempunyai jadwal yang cukup sering untuk rute tersebut.  Pertama kali pada saat saya menaiki gerbong yang di cat warna kuning terang itu, agak was-was juga, karena pernah mendengar dari teman-teman bahwa sering ada copet yang berkeliaran di dalam gerbong. 

Interior gerbong selayaknya MRT di Singapur atau subway, dua baris tempat duduk dari bahan fiber, pintu dan injakan kaki otomatis.  Bedanya, Prameks memanfaatkan “AC” (angin cendela), namun saya tidak merasakan panas sepanjang perjalanan, karena jendela-jendela yang berjejer di atas tempat duduk terbuka maksimal.  Lantai yang bersih, petugas karcis yang tegas dan lugas juga menambah kenyamanan di dalam kereta. Belum lagi sat-pam yang senantiasa mondar mandir di sepanjang gerbong, juga ada dua petugas yang mendorong “cart” kecil yang berisi aneka minuman dan makanan ringan, dilengkapi dengan bel sepeda kecil, yang dibunyikan saat melintasi para penumpang. 

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 45 menit itu melewati persawahan yang membentang, kadang terlihat bukit-bukit dikejauhan, menjadi bonus tersendiri.  Kereta ini hanya berhenti di stasiun Solo, Klaten dan Yogyakarta.  (walaupun ada yang jurusan Solo-Kutoarjo, tetapi saya tidak begitu mengerti jalurnya).  Tepat waktu berangkat adalah suatu prestasi PT. KAI yang perlu diacungkan jempol, sehingga penumpang tidak terganggu jadwal dan aktifitas mereka. 

Sungguh suatu terobosan yang praktis bagi masyarakat yang punya kepentingan mengunjungi kedua kota tersebut, selain juga pengiritan yang signifikan tentunya.  Cukup dengan merogoh kocek sebesar tujuh ribu rupiah saja, sudah dapat sampai di tujuan.  Apabila dibandingkan dengan mengendarai mobil sendiri, maka setidaknya memerlukan seratus lima puluh ribu untuk biaya bensin.  Perbedaan biaya yang mencolok, belum lagi pengiritan waktu dan resiko membawa kendaraan sendiri.

Kebersihan di gerbong juga harus di dukung oleh penumpangnya untuk tidak membuang sampah sembarangan di lantai, seperti yang pernah saya amati beberapa waktu yang lalu, dimana satu keluarga muda, dengan dua putri yang masih kecil.  Orang tua mereka terlihat intelek, ayahnya tenggelam membaca di barisan tempat duduk di depan ibu dan anak-anaknya. Agar tidak rewel dan bosan, maka si ibu membukakan makanan ringan “Taro” kepada anaknya. Dalam mengambil snack tersebut, ada beberapa yang tercecer di lantai. Setelah habis makanan itu dengan ringannya, si ibu menjatuhkan bungkus makanan ringan itu ke lantai.  Maka, terjadilah pemandangan yang tidak seindah bukit dan persawahan yang disajikan di luar gerbong. 

Sangat disayangkan hal itu terjadi, bahkan dari keluarga yang intelek.  Namun hal itu baru saya temui sekali dalam beberapa perjalanan yang saya lakukan dengan transportasi umum itu.  Semoga semakin banyak orang yang akan menyadari untuk memelihara kebersihan gerbong demi kepentingan bersama. 

Andaikata masyarakat luas menggunakan alat transportasi ini untuk bepergian kekedua kota tersebut, pasti penghembatan bbm akan sangat terasa, sehingga mungkin pemerintah tidak perlu selalu merevisi harga dan juga polusi yang disebabkan oleh kendaraan bermotor juga akan berkurang dengan drastis.  Belum lagi dapat meningkatkan kesejahteraan para pegawai dan petugas kereta api. 

Namun, masih ada segelintir kalangan yang berpikir, bahwa dengan menumpang transportasi umum yang tersedia, menurunkan gengsi mereka.  Konotasi bahwa kendaraan umum yang disediakan hanya untuk kalangan bawah.  Tanpa mempertimbangkan untuk lebih menyayangi bumi yang telah tua ini dengan cara yang sederhana, sehingga anak cucu kita dapat juga menikmati segala yang kita nikmati sekarang ini.

 

Konotasi bahwa Prameks itu kotor dan banyak copet sudah seharusnya dihilangkan, karena terlihat bahwa PT.KAI berusaha keras untuk merubah image yang sebelumnya bercokol pada jalur ini, sehingga mendapat tanggapan dan animo yang lebih daripada sekarang ini, sehingga jadwal dapat ditambahkan lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kedua kota tersebut.

Mungkin inilah salah satu cara kita dalam mengantisipasi kenaikan bbm dengan menggunakan skala prioritas dalam menyikapi peningkatan kebutuhan hidup dewasa ini.

 

 

 

Ternyata, dengan KA. PRAMEKS not bad at all….not bad at all !!!

 

JADWAL BERANGKAT PRAMEKS dari:

S O L O :

Jam : 05.45  ;  07.15  ;  08.45  ;  10.05  ;  11.40  ;  12.55  ;  14.50  ;  16.16  ;  17.45  ;  18.45

 

JOGYAKARTA :

Jam : 07.58  ; 09.30  ;  11.11  ;  12.30  ;  14.17  ;  15.05  ;  17.12

 

Oleh: connie lianto | Mei 6, 2008

LASEM

 

Menjelang waktu makan malam kami sampai di Lasem, setelah menempuh perjalanan yang panjang, kondisi jalan yang jelek, serta macet yang lumayan lama di daerah Welahan-Kudus dan Pati-Rembang.  Karena kami buta terhadap kota itu, maka muncul ide untuk berhenti dan mencari referensi untuk tempat makan dan menginap.

Kami memutuskan untuk bertanya di toko P&D, yang menjual berbagai makanan keci dan minuman, yang lumayan besar.  Di depan toko itu berkumpul tiga bapak yang sedang “kongkow”.  Mereka berlomba-lomba memberikan referensi tempat menginap dan rumah makan yang baik dan menurut mereka lebih baik kami kembali ke Rembang untuk menginap dan mengisi perut yang mulai “berbisik”.  Kota Rembang yang hanya berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Lasem, yang tadi sudah kami lewati. Akhirnya kami mengikuti saran mereka dan kembali ke Rembang dan menginap di hotel Kencana yang terletak di pusat kota, berdekatan dengan alun-alun.

Hotel kecil yang bersih, lengkap dengan AC, TV, Kulkas dan tempat tidur double dan single. Cukup untuk mengakomodir kami bertiga.  Setelah check-in, kami pergi kedaerah alun-alun untuk mencari makan malam.  Diseputar alun-alun begitu banyak makanan yang dijajakan.  Umumnya mereka menawarkan ayam goreng/bakar. 

Keesokan paginya kami kembali ke kota Lasem yang terkenal dengan batiknya yang unik, karena corak dan warna yang ditampilkan.  Tujuan pertama adalah ke pantai Lasem, yang merupakan pantai nelayan dengan kapal-kapal yang menyerupai “Jung” Cina, yang di cat warna-warni. Tersebar di sepanjang pantai.  Selain batik yang indah dan unik, ternyata Lasem juga menyimpan berbagai bangunan kuno yang tersebar di seluruh kota yang membuat mata dan lidah berdecak kagum.  Bangunan-bangunan yang begitu kental dengan arsitektur Cina, seakan sedang berada di negara tirai bambu. 

Di tambah lagi dengan keramahan penduduknya kepada pengunjung dari luar kota, sungguh memberikan kesan yang menyenangkan.  Kotanya yang kecil memungkinkan bagi para penduduk saling mengenal satu dengan yang lain.  Kerukunan dan pembauran dirasakan sangat kental, sehingga terasa harmonisasi dari penduduknya yang terdiri dari berbagai tingkatan sosial ekonomi.  Sopan santun dirasakan juga begitu kental dengan kehidupan mereka.  Tidak segan juga untuk menceritakan sejarah kota Lasem, seperti yang dilakukan oleh Bapak Sigit ketika menerima kami di rumahnya, kendati sebelumnya belum saling mengenal.  Juga tetangga beliau, Bapak Widji Soeharto sempat mengundang saya untuk mengambil foto di rumahnya yang ber-arsitektur Cina-Eropa.  Suatu keramahan yang langka pada jaman sekarang ini, dimana masyarakat cenderung apatis dan individualis.  Saya sempat canggung akan keramahan ini, yang merupakan satu kemewahan tersendiri.

Terdapat  kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Poo An Bio di Jalan Karangturi, Gie Yong Bio di Jalan Babagan. Ketiga kelenteng ini ukiran-ukiran Cina yang sangat halus, di sinyalir ukiran-ukiran tersebut dilakukan oleh pengukir-pengukir yang didatangkan dari daratan Cina.  Yang membedakan kelenteng Gie Yong Bio di Jalan Babagan dengan yang lainnya, adalah dengan berdirinya patung Raden Margono, Tan Kee Wie dan Oei Ing Kiat dimana mereka bahu-membahu melawan VOC pada tahun 1742.  Pemberontakan ini di kenal dengan nama Perang Godo Balik.

Kerukunan diantara masyarakat Lasem sudah tercipta beberapa abad yang lalu, selain masyarakat Tionghoa yang mayoritas beragama Kong Hu  Cu itu, mempunyai falsafah di empat penjuru benua adalah rumah/tempat tinggal dan setiap manusia adalah saudara, sesuai yang tersirat dalam kitab Kong Hu Cu.  Aspek-aspek inilah yang melatarbelakangi keramahan dari masyarakat Lasem pada umumnya. 

Ternyata tidak saja batik Lasem yang cantik, namun budi pekerti masyarakat Lasem juga tidak kalah cantiknya. 

Oleh: connie lianto | April 16, 2008

SOLO BATIK CARNIVAL

Hari Minggu, tanggal 13 April 2008 siang, pedestarian yang dikenal dengan “City Walk” di kota Solo, terlihat dipadati oleh masyarakat.  Sederetan kios-kios yang menawarkan berbagai produksi batik berjejer di sepanjang jalan protokol, Jalan Slamet Riyadi. Event ini dalam rangka mendukung Solo Batik Carnival yang rencananya di gelar pada puku 14.00 pada hari yang sama.

Keresahan dan kebosanan dalam menunggu.

Namun, sesuai dengan kebiasaan sosial di Indonesia, maka parade Solo Batik Carnival mengalami keterlambatan yang cukup signifikan, 1,5 jam dari jadwal.  Pada pukul 15.30 terlihat dua mobil pemadam kebakaran mengawalinya membuka jalan, di susul oleh dua mobil tanki dari PDAM yang bertugas untuk membasahi jalan protokol itu untuk mengurangi suhu aspal, guna keperluan karnival.  Di belakang tangki PDAM adalah mobil polisi sebagai penutup pelebaran jalan untuk keleluasaan para peserta carnival yang akan melewati jalan itu.  Masyarakat Solo begitu antusias menyambut acara ini, dengan sabar menunggu dan berjejer di sepanjang bahu jalan di bawah terik matahari.  Karena antusias masyarakat dan ketidak sabaran, maka hampir seluruh jalan tertutup oleh kerumunan dan tiada henti mereka menengok ke arah timur, dimana parade di mulai.

Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu

Ikut mengambil bagian dalam parade itu adalah Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu beserta ajudan dan staffnya, yang semuanya adalah perempuan, dengan menaiki kereta kencana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, juga beberapa tamu Pemerintah Kota Surakarta di kereta yang berlainan.  Kereta-kereta kuno dengan kondisi baik dan terpelihara, seakan membawa masyarakat kembali pada jaman dahulu kala, di tambah lagi dengan barisan para prajurit dengan kostum prajurit Jawa dengan senjata dan tombak.  Menteri Perdagangan menebarkan senyumnya kepada masyarakat yang berkerumun di pinggir jalan.  Sempat terdengar ada yang menyeletuk untuk menghimbau kepada Ibu Mari Pangestu untuk tidak menaikkan harga minyak goreng dan dijawab “Mudah-mudahan” sembari diiringi senyum.  Ada juga yang mendekati Ibu Menteri dan berdialog ringan dengan menyampaikan pada Ibu Menteri bahwa mereka juga berasal dari kota Semarang, dimana adalah juga merupakan kota asal Ibu Mari Pangestu. Spontanitas seperti itu merupakan satu kesempatan Ibu Menteri dalam menangkap keluhan dan masukan dari masyarakat Solo yang mereka sampaikan secara spontan. Semoga dapat dijadikan bahan pemikiran dalam mengambil langkah-langkah untuk kepentingan masyarakat luas.

Ide carnival batik ini adalah suatu langkah pemerintah kota Surakarta dalam mempromosikan batik sebagai komoditi dan usaha untuk memasyarakatkan pemakaian baju batik. Adakah aksi ini terinspirasi oleh ajaran Mahatma Gandhi dengan swadeshi, yang dimana dewasa ini telah terbukti kekuatannya bagi negara India.

Kereta Kencana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Interval dari satu rombongan ke rombongan yang lain menimbulkan kevakuman yang cenderung panjang, sehingga keselarasan dalam menampilkan karnival/parade terputus alur gambaran yang akan disampaikan.  Kevakuman itu mengubah antusiasme menjadi kebosanan dalam menunggu yang berkepanjangan.  Bayangan saya saat membaca judul “SOLO BATIK CARNIVAL” yang membuat pikiran saya melayang pada Carnival di Brazil ataupun yang di Pasadena (mungkin agak berlebihan ya!) menjadi sirna. 

Setelah penantian yang serasa tiada berujung itu, membuahkan kebosanan dan keletihan yang tidak bisa diungkapkan.  Dengan langkah gontai, saya meninggalkan parade “heboh”, menaiki sebuah becak yang membawa saya kembali ke Sasono Gondopuri, dimana kendaraan saya berada. Menuju pulang kerumah, sebelumnya meneguk dua gelas es jeruk, terasa menyegarkan tenggorokan yang telah mengering dari tadi.  Maklum, karena takut terlambat (saya lupa akan kebiasaan jam karet), dengan sigap stand by di kerumunan jam 14.00 sesuai dengan pemberitaan di radio dan yang terpampang di sepanjang jalan protokol Solo, Jalan Slamet Riyadi.  Semoga tahun mendatang, acara yang direncanakan akan diadakan setiap tahun dapat lebih profesional dan tepat waktu

Oleh: connie lianto | April 9, 2008

SD.SUBSIDI SUSTER SINGKAWANG

Sr. Bernardin Fransisca Kartini, SFIC

Sekolah Dasar Bersubsidi (SDS) SUSTER yang berada di kota Singkawang, Kalimantan Barat, menjadi salah satu sekolah dasar yang terbaik di kota itu.  Hampir sebagian besar anak usia sekolah dasar menimba ilmu di sana.  Sekolah ini telah meluluskan tak terhitung banyaknya murid yang kini tersebar di berbagai daerah dan negara.  Sekolah yang telah berdiri sejak dahulu kala (maaf, saya belum punya kesempatan menanyakan kapan sekolah ini berdiri).

Pertemuan dengan seorang teman dari suatu waktu yang singkat di masa lalu, membawa kenangan yang hampir pudar, namun juga membuahkan kegirangan yang tak terkatakan.  Kini, memasuki usia matang, dengan rambutnya yang telah mulai memutih, namun tetap dengan semangat kerasulan dan transparansi yang diusahakannya, dipercayakan oleh Yayasan untuk  memimpin SDS. SUSTER.  Disadarinya, dalam menjawab tantangan jaman yang semakin maju, sistim pendidikan yang baru, bukanlah sesuatu yang mudah dan dapat terwujud dalam sekejap mata, namun semangat yang ada dalam dirinya membuatnya tidak lelah untuk berusaha keras dalam misi mencerdaskan anak didiknya menjadi manusia muda yang mandiri dan bertanggung jawab.

 

Dalam menjawab tantangan jaman dan penambahan kebutuhan ajar-mengajar di sekolah ini, maka pihak sekolah berpendapat, sudah waktunya untuk menambah gedung baru yang bertingkat, mengingat pada musim hujan, deretan kelas seperti yang terpampang di atas ini sering banjir, karena volume air yang banyak dan lantai sekolah sejajar dengan lapangan.  Selain itu kebutuhan akan lapangan sepak bola dirasakan perlu dalam menunjang kegiatan extra kurikuler yang digandrungi oleh anak-anak didik. 

Dalam waktu dekat ini, gedung sekolah yang lama (seperti yang terlihat pada foto di atas) hanya akan menjadi kenangan bagi para murid dan para alumni dan digantikan dengan lapangan sepak bola, selain juga di nilai mengganggu estetika gedung bertingkat yang terletak dibelakang gedung tua ini. 

Ada rasa romantisme dan sentimentalisme ketika mengetahui program penghilangan gedung tua yang pasti banyak membawa kenangan bagi para alumni. Namun, mungkin pihak sekolah tidak dapat lagi mempertahankan gedung ini, mengingat tuntutan dunia pendidikan yang semakin hari semakin berkembang.  Maka, sisi romantisme dan sentimentalisme haruslah dikorbankan untuk menunjang tuntutan dewasa ini, sesuai dengan perkembangan jaman.

Pemandangan di atas bukanlah yang asing bagi para alumni sekolah ini.  Pohon tua yang rindang, namun dengan bentuk yang unik, memberikan rasa sejuk dan asri.  Segera pohon inipun akan menjadi kenangan. Keceriaan anak-anak bermain disekitarnya, bahkan banyak yang berusaha memanjat, sebagai bentuk dari explorasi bocah juga segera akan digantikan oleh modernisasi tuntutan jaman.

Artikel ini saya persembahkan bagi para alumni SDS.SUSTER SINGKAWANG.  Walau memang tidaklah rinci dan detail dalam mengupas keberadaan sekolah ini sekarang, namun lebih saya tekankan pada gedung yang segera akan digantikan oleh gedung megah yang bertingkat yang terletak dibelakang gedung tua yang pendek ini, namun telah begitu banyak jasanya dalam mencerdaskan manusia Indonesia, khususnya warga kota Singkawang, Kalimantan Barat, walalupun tidak lagi dia berdiri pada kesempatan lain, saat kita mengunjunginya, namun bagi para alumni, akan selalu mengingat detail bangunan ini  dengan jelas beserta segala kenangan pada masa kecil mereka. 

 Tambahan:

Reuni SD, SMP SUBSIDI SUSTER SINGKAWANG dengan tema TEMU KANGEN, akan diadakan di sekolah tersebut pada tanggal 26-27 Juni 2009. Diharapkan alumni di kedua sekolah itu berpartisipasi meramaikan event yang pertama kali diadakan di sana.  Rencananya akan ditampilkan berbagai acara untuk mendukung, salah satunya adalah seminar yang mengambil tema wanita berkarier di tengah kesibukan mengurus keluarga.  

Semoga reuni yang akan diadakan ini dapat menambahkan semangat dan merupakan ajang untuk kita sejenak kembali pada masa belia, sehingga lebih menguatkan tali pertemanan dan persaudaraan bagi para alumni.  Sehingga ajang pertemuan setelah sekian lama ini dapat berkesinambungan dalam bersama-sama melangkah ke depan, sesuai dengan karya dan panggilan dari masing-masing pribadi.

Keterangan selanjutnya dapat di akses di : http://reunismpsusterpengabdi.net/

Oleh: connie lianto | Maret 16, 2008

SEKILAS TENTANG RUMAH SAKIT KHUSUS ALVERNO

408_0804.jpg

408_0804.jpg

Pada tanggal 17 November 1925, di atas lahan milik Keuskupan Agung Pontianak, seluas 2 hektare yang terletak di Jalan Gunung
Sari, Singkawang, berdirilah Rumah Sakit Khusus Kusta Alverno, yang pengelolaannya dipercayakan kepada Kongregasi Suster Fransiskanes Imacullate Conception (SFIC).  Keadaan sekitarnya begitu alami, dikelilingi tanaman hijau yang asri, bunga bougenville dan lainnya tumbuh subur.  Rumah biara yang seluruhnya dibangun dengan kayu ulin yang hitam, yang terleta
k di bagian atas, dapat melihat ke seluruh penjuru areal rumah sakit. Suara burung yang sekali-kali memecah keheningan tempat ini, membuat betah siapapun yang datang bertandang kesini.  Taman yang indah yang mengelilingi tempat ini, semuanya dikerjakan oleh para eks pasien yang telah sembuh.  Jalan beraspal yang mulus, bangsal-bangsal yang bersih dan rapi, selaras dengan gunung sari dan hutan lindung yang mengelilinginya. Sekilas suasanannya bagaikan rumah retret. 

 

 

RUMAH SAKIT KHUSUS ALVERNO

 

Jumlah pasien yang di rumah sakit ini berjumlah 40an dan semuanya telah sembuh total.  Namun, mereka tetap berada di sana kendati telah sembuh, karena tidak pernah di tengok oleh sanak keluarga.  Sehingga nyaris para suster pengelola dan sesama penderita kusta menjadi keluarga mereka. Keluarga mereka malu terhadap penyakit yang dideritanya, walaupun telah dinyatakan sembuh secara medis.  Namun tetap menjadi momok yang menakutkan dan memalukan bagi keluarga penderita.  Oleh sebab itu, setiap hari minggu, Sr. Bernardin Fransisca Kartini, SFIC menyempatkan untuk memberi siraman rohani, untuk menguatkan mental mereka yang terpuruk karena rasa minder dan hina, disamping kesibukannya sebagai kepala sekolah SD.SUSTER Singkawang.  Sayang, saya tidak mempunyai kesempatan ikut mendengarkan materi yang disampaikannya, karena pada saat kunjungan saya, tidaklah bertepatan dengan hari minggu. Hujan yang mengguyur sepanjang sore itu membuat saya tidak dapat mengelilingi bagian-bagian bangunan itu, melainkan hanya dapat melihat dari luar saja. 

Saat ini ada empat suster yang menetap di biara tersebut, yaitu Sr. Edmunda,SFIC yang bertugas mengurus rumah tangga biara, Sr. Angelita,SFIC, yang bertugas di rumah sakit Khusus Alverno, Sr. Bernardin Fransisca Kartini,SFIC sebagai kepala sekolah SD.Suster Singkawang dan Sr. Yasinta,SFIC sebagai kepala sekolah TK.SUSTER Singkawang.

Pada suatu sore, hujan yang tiada henti mengguyur kota Singkawang, juga daerah Gunung Sari, suster Angelita  yang baru saja pulang dari bertugas di Rumah Sakit Alverno mengatakan baru selesai operasi, namun beliau tidak menjelaskan lebih rinci tentang itu. Terlihat kelelahan di raut wajahnya. Namun ada ketulusan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

408_0827.jpg

Kecerian Suster Yasintha sebagai suster yang termuda di biara senantiasa menambah warna dalam kehidupan biara.  Ketulusan dan pengabdian mereka masing-masing dalam karya kerasulan mereka memberikan kontribusi bagi masyarakat Singkawang. Terima kasih atas pengabdiannya. Terima kasih atas cintanya pada manusia yang terisolasi dari keluarga dan masyarakatnya.

Oleh: connie lianto | Januari 23, 2008

SIKKA

Gereja di Sikka

Desa Sikka di tempuh dengan jalan darat, tidak terlalu jauh dari kota Maumere.  Letakknya di pesisir pantai.  Memasuki desa itu, kami melewati pinggir pantai.  Dengan melewati  tanda salib yang besar dari kayu, menurut cerita, salib itu telah berdiri sejak dahulu kala, disinyalir sebagai peninggalan portugis, juga melalui sederet panjang rumah panggung yang terletak disepanjang jalan. 

Sampai di ujung desa, terlihatlah gereja katolik yang paling tua di Flores,  bangunan khas gereja ala Portugis yang terbuat dari kayu.  Dari luar, bangunan gereja itu tidaklah berbeda dengan gereja lainnya di Flores.  Gedung paroki yang merupakan rumah pastor berhadapan dengan bangunan gereja.  Kami masuk ke gereja itu yang tidak terkunci, keindahan bangunan ini terkuak.  Yang paling menonjol dari bangunan ini adalah langit-langit gereja yang begitu unik dengan permainan usuk dari kayu yang melintang indah.  Tiang-tiang kayu penyanggah bangunan berjejer rapi di sebelah kiri dan kanan bangunan juga memberi sentuhan indah pada bangunan ini.  Terkesima! itu yang dapat saya ungkapkan.  Bangku-bangku umat juga tertata rapi.  Kayu-kayu kuno yang besar-besar dijadikan pilar bangunan itu.  Altar yang unik dan kuno.  Semuanya dalam keadaan baik.  Patung-patung yang menjadi salah satu ciri khas gereja katolik menandakan keuzuran dari gereja ini.  Deburan ombak dikejauhan menambahkan suasana kekhusyukan suasana.  Sayang, pada saat kami datang tidak ada kegiatan misa disana.  Pastor paroki juga tidak berada di tempat, menurut informasi yang kami terima dari seorang penduduk disana, beliau sedang berkunjung ke desa lain, salah satu kegiatan pastoralnya.  Di gereja ini hanya terdapat satu pastor untuk melayani umat. 

Menikmati keindahan gereja ini terganggu oleh kerumunan anak-anak yang mengikuti kemanapun kita berjalan untuk sekedar meminta uang dengan berbagai dalih, untuk sekolah, untuk beli buku.  Ada satu anak yang berusaha menawarkan jasanya dengan mengomentari segala yang kita lakukan.  Puas menikmati keindahan itu, aku melangkah keluar ke gereja dengan diikuti “dayang-dayang” kecil :) dibarengi “endless chanting” tentang kebutuhan membeli buku.  Betapa terkejutnya sesampainya aku diluar gereja, ternyata telah menunggu ibu-ibu yang siap dengan kain tenunnya ditangan, sambil duduk-duduk mereka dipelataran gereja.  Namun, tidak secara langsung mereka menawarkan, rupanya ada pembicara yang ditunjuk untuk menjawab pertanyaan ataupun bercerita tentang gereja tersebut.  Di sela-sela “menjadi guide” dia  juga menawarkan kain ikat yang mereka tenun sendiri. Kami menolak dengan halus, berpamitan, setelah menumpang kamar mandi pastor :) Menaiki mobil sewaan kami dan masih diikuti oleh para dayang dayang kecil yang tetap chanting dengan setianya.  Kurogoh kantongku, memberikan yang mereka mau, segera diterima dan mereka lari menjauh dari kami. Wow, MAGIC!

Kami terganggu oleh mereka, namun kami mengerti kesulitan hidup yang semakin melilit membuat mereka mengemis.  Perjalanan keluar dari desa itu sempat membuat kami terdiam, ada rasa iba dan sedih yang menguak.  Kemiskinan yang menyakitkan.  Salah satu cara yang mereka tahu adalah dengan meminta pada pengunjung, menawarkan kain ikat hasil tangan mereka sendiri.  Hanya itu yang mereka tahu.

Sore telah mengintip saat kami memacu mobil meninggalkan tempat itu.  Rasa kagum, “ngenes” dan sedih bercampur jadi satu, menyebabkan kami terdiam sekelumit waktu. Begitu kontras perasaan itu, begitu beragamnya hidup manusia ini.

 

 

Oleh: connie lianto | Januari 10, 2008

SOLO

Pada hari Rabu, tanggal 9 Januari 2008, kota Solo terasa kesibukan lalu lintas yang lebih dari biasanya.  Masyarakat menyiapkan diri untuk menyambut Malam 1 Suro.  Menjadi tradisi di Solo dari dahulu kala, Pura Mangkunegaran akan mengadakan kirab (perarakan) pusaka  Puro, beberapa jam sebelum  kirab pusaka di Keraton Surakarta, yang setiap tahun dilakukan pada tengah malam menjelang Suro.

Adalah kebiasaan masyarakat Solo dan sekitarnya untuk mengelilingi Puro Mangkunegaran sebanyak 7 kali dengan berdoa meminta berkah memasuki tahun baru Jawa, juga sekalian berefleksi tentang segala yang dilaluinya pada tahun yang silam.  Salah satu ketentuan yang dipercaya oleh masyarakat adalah untuk tidak menengok kebelakang pada saat melakukan ritual tersebut.  Menjelang malam, luar tembok Puro Mangkunegaran dipadati oleh para peziarah yang melakukan ritual tersebut, sehingga aparat lalu lintas turun tangan dalam mengatur lalu lintas.  Jalan di depan gerbang Utama Puro di tutup, karena berjubelnya manusia. 

Kepadatan kendaraan roda dua dan empat juga terasa di Slamet Riyadi.  Mereka memarkir kendaraannya di pinggir jalan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi untuk menunggu kirab Keraton Surakarta.  Kemacetan-kemacetan kecil tidak dapat dihindari, keruwetan juga terjadi di area mendekati Keraton Surakarta, karena ulah para pengendara sepeda motor yang menyelip tanpa memperhatikan keselamatannya.  Lampu sign sepertinya tidak berarti bagi mereka, karena tidak mempedulikan sama sekali.  Maka roda empat haruslah ekstra hati-hati untuk tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. 

Keadaan seperti ini berlangsung sampai larut malam, karena pada malam suro masyarakat Jawa biasanya melakukan “lek-lekan”, begadang sampai sesudah jam 12 malam.  Maka banyak juga rumah-rumah di kampung yang membuka pintu mereka, bahkan ada yang menggelar tikar di depan rumah mereka untuk berkumpul dengan mengobrol, minum teh/kopi untuk mengusir rasa kantuk. 

Banyak di antara mereka yang berjalan kaki dari daerah pinggiran kota Solo untuk menuju ke Puro Mangkunegaran untuk menuntaskan ritual tahunan itu atau hanya sekedar menyaksikan kirab Keraton Surakarta.

Dari jaman dulu, yang menjadi primadona pada waktu ritual kirab pusaka Keraton Surakarta adalah kerbau Kyai Slamet, berkulit albino, sering juga di sebut kebo bule, yang setiap malam suro tidak pernah terlambat untuk kembali ke Keraton untuk di kirab bersama dengan pusaka-pusaka Keraton lainnya, seperti tombak, keris, pedang dan lain sebagainya. Pada hari-hari biasa, kerbau itu dibiarkan melanglang buana, kadang sampai ke Wonogiri (sekitar 2 jam perjalanan dengan kendaraan).  Keunikan dari kesetiaannya pada Keraton Surakarta yang menjadikannya terkenal dan di tunggu-tunggu oleh segenap masyarakat pada malam itu, walaupun Kyai Slamet telah berganti beberapa generasi, namun kesetiaan turun temurun tetap melekat pada keturunannya. 

 Namun setelah jam satu malam, keadaan pelan-pelan berangsur sepi dengan sendirinya.  Pintu-pintu rumah mulai tertutup. Keheningan mulai terasa, meninggalkan bias-bias keramaian.  Kota Solo kembali seperti malam-malam lainnya, hanya bedanya, masyarakat mempunyai harapan baru, dibarengi dengan keprihatinan yang mendalam, serta refleksi tentang segala kekeliruan pada tahun sebelumnya, dalam menyambut tahun baru Jawa yang telah menanti di ujung mata.

Selamat Tahun Baru Jawa…. Semoga Tuhan berkenan terhadap kita semua dan menjauhkan segala marabahaya dan malapetaka dari hidup kita. Amen. Amen. Amen.

Maaf, saya tidak sempat mengambil foto pada malam Suro…. Ada kegiatan lain yang tidak bisa saya tinggalkan.

Oleh: connie lianto | Januari 6, 2008

SINGKAWANG

singkawangKotamadya Singkawang yang berarti daratan/tanah yang dikelilingi oleh gunung, laut dan sungai, terleletak di Pulau Kalimantan Barat. Lama perjalanan sekitar 3 jam  dari  kota Pontianak yang merupakan ibukota Propinsi Kalimantan Barat. 

Ada beberapa bangunan yang menjadi ciri khas Singkawang sejak jaman dahulu kala dan masih berdiri kokoh menantang jaman. GerejaKatolik Santo Fransiskus, Mesjid Agung, Kelenteng/Vihara yang berada di tengah kota.  

Tidak kalah menarik pula keramaian pasar dengan beraneka ragam sayuran, daging, menu sarapan yang ditawarkan, juga memberi warna tersendiri dalam memulai hari.  Berbagai kue, bubur daging babi, bakmi seafood yang ditawarkan disana.  Sulit bagi kami untuk menahan keinginan untuk tidak jajan. Pasar traditional menajadi salah satu kegiatan rutin kami, setiap kali kami berkesempatan untuk mengunjungi kota ini.  Kesibukan transaksi yang mengasyikkan.  Situasi seperti ini tidak pernah berubah dari jaman dahulu kala. Yang merupakan salah satu peninggalan dari masa lalu.  Sayangnya penjaja es serut yang dulu merupakan kesukaan saya sudah tidak lagi berjualan di tengah pasar.  Sepertinya es serut yang berwarna merah muda sudah punah dari kota ini.

Sesuai dengan perkembangan jaman, pemukiman rakyat berkembang keluar pusat kota.  Bahkan di pantai Singkawang (sekitar 30 menit dari pusat kota) berdiri hotel Santika, namun kami tidak sempat mengunjunginya, karena waktu yang begitu singkat.  Hotel-hotel mulai bertumbuh kembang disana, sesuai dengan kebutuhan, walaupun mereka masih menyediakan fasilitas yang standard.  Bicara tentang hotel, kami menginap di Hotel Prapatan, yang letaknya strategis di dalam kota.  Satu pelajaran yang berharga saya petik selama menginap di sana, bahwa adalah kesalahan besar untuk meminta mereka membersihkan kamar kami, karena ternyata mereka tidak hanya sekedar membersihkan kamar, tapi juga membersihkan tas kami, dua set kacamata saya, hitam kir dan putih kir raib tanpa saya sadari.  Untunglah lensa-lensa kamera tidak ikut raib pula.  Kacamata yang merupakan piranti esential saya pada saat saya menyetir.  

Penduduk yang mayoritas adalah dari etnis Cina dan beragama Kong Hu Cu, diikuti oleh Katolik, Islam, Kristen. Pusat kota masih dapat dilalui dengan berjalan kaki, walaupun kendaraan roda empat dan dua sudah begitu banyak, namun untuk berjalan kaki masih merupakan kegiatan yang mengasyikkan disana.

 Morning in Singkawang

Ada satu bangunan yang begitu menarik perhatian saya, setiap kali saya mengunjungi kota itu.  Bangunan kayu tua itu di sebut oleh masyarakat setempat disana sebagai “Dai Buk Tu” yang artinya”Rumah Besar”.  Sesuai dengan namanya, rumah itu memang besar, berlokasi di pinggir sungai, bangunan yang telah berusia 10oan tahun, dari material kayu besi seluruhnya. Masih berdiri kokoh sampai sekarang. Pendirinya adalah Marga Chia, dari dialect Hokkien, merupakan taipan di Singkawang pada jamannya. Yang tinggal di rumah itu sekarang adalah para keturunanya.  Mereka telah membagi-bagi bangunan itu menjadi “compound” masing-masing keluarga.  Saya tidak jelas bagaimana mereka membagi dan legalitas dari bagian yang mereka peroleh.  Yang pasti tidak diperjual belikan.  Bangunan 2 tingkat yang begitu kokoh dan unik tetap tegar menembus waktu.  Tidak ada perubahan yang signifikan pada keseluruhan bangunan itu.  Ada dua ruangan besar yang mereka gunakan bersama setiap tahunnya, yaitu Ruang Doa, dimana terletak altar sembahyang yang di import dari Daratan Cina. Sembahyangan cara Kong Hu Cu kepada Tuhan YME dan para leluhur (ancestor hall) dan satu lagi ruangan serba guna.  Pernikahan, kematian, pesta tahun baru Imlek dilaksanakan disana. Kalau kita menyelusuri rumah itu, disana-sini masih ada mebel peninggalan jaman kuno yang masih terpelihara baik dan masih digunakan.  Namun sayangnya sudah banyak yang di jual kepada orang-orang kaya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Puncak keramaian disana adalah setiap Imlek dan Cap Go Meh, dimana ada atraksi-atraksi keliling kota dari ”penunggu Kelenteng” dari segala penjuru Singkawang dan itu menjadi atraksi tersendiri yang tidak kalah unik dan magisnya.  Tradisi Cina masih dipegang teguh oleh masyarakat disana dan menjadi hiburan yang meriah yang dilakukan setiap tahun, sesudah pemerintahan Orde Baru lengser.  Yang dewasa ini menjadi atraksi tersendiri untuk para turis asing maupun domestik.

 410_1003.jpg

Bagi kami, Singkawang artinya makanan. Rumah makan masakan Cina yang tidak menyediakan menu, namun mereka akan memasakkan sesuai dengan pesanan. Unik bukan? 

Note/Tambahan :

Salah satu istimewa di Singkawang adalah kopinya, yang dapat didapatkan di kedai-kedai kopi yang tersebar diseluruh sudut kota, tetapi yang menjadi favorit saya adalah kedai yang terletak di dekat terminal bis, Jl. Niaga.  Di depan kedainya ada ibu berjilbab berjualan “bubur sapi” (?).  Owner kedai kopi tersebut, yang juga “coffeetender” adalah seorang ibu muda yang cantik dan ramah. Namun kopi buatannya begitu enak, melebihi espresso dimanaupun di dunia.  Teko, tempat kopi, tempat air mendidih juga begitu traditional, semuanya dari bahan kuningan.  Andai saya kesana lagi, pasti akan mampir untuk menikmati espresso seduhannya. (Maklumlah, saya pencinta kopi, kalau tidak disebut addict).

407_0761.jpg

Oleh: connie lianto | Januari 6, 2008

RIUNG

RIUNGPerkampungan nelayan yang terletak di dekat desa Mbay. 

Dengan menyewa kapal nelayan yang sederhana untuk dapat menjelajahi pulau-pulau disekitarnya, kami memulai pengalaman memanjakan mata dan menikmati air lautnya serta taman laut yang memukau.

Perjalanan ke Riung dari kota Ende memakan waktu sekitar 5 jam ke arah Bajawa.  Ada perbedaan pemandangan ke Riung dengan tempat lainnya di Flores, yaitu jalan datar beraspal, namun setelah melewati Mbay, jalan tidak beraspal dengan lobang-lobang lumayan besar (offroads), membuat kendaraan merayap.  Namun pemandangan yang begitu lain dari tempat lainnya, mengingatkanku pada film kartun Lion King. Maka kunamakan daerah itu Simba’s World. Perbukitan tandus, binatang peliharaan yang berkeliaran untuk mencari makanan, sapi yang kurus, kambing gunung yang mencari makanan sampai ke bukit-bukit, babi hitam dan putih yang dibiarkan lepas, ayam-ayam berkejaran di halaman.  Rumah yang begitu sederhana. Kegersangan yang menyakitkan namun juga memberi pemandangan yang indah. 

Sesampai di Riung, kami menuju ke pondok penginapan SVD. Tempat yang sederhana, seperti layaknya sebuah biara katolik. Setelah melihat sekeliling, akhirnya kami memilih kamar ber AC, yang berada di belakang bangunan utama.  Dari situ kami mengatur acara ke pulau Kelelawar, snorkling dan ke pulau lainnya (saya tidak menanyakan nama pulau itu) untuk berenang dengan pegawai pondo SVD yang bernama Vincent. Kami sepakat untuk berangkat jam 06.30 pagi dengan kapal boat nelayan dan Vincent, guide kami ini akan menyediakan sarapan pagi dan juga ikan bakar pada siang hari di pulau nanti. Dia juga akan mempersiapkan nasi dan mie goreng.

 Kami bangun jam 05.30, mandi dan sarapan.  Sampai waktunya kami untuk berangkat.  Pondok penginapan SVD berjarak sekitar 500meter dari dermaga.  Maka kami di antar supir ke dermaga dan kemudian supir kembali ke pondok untuk memarkirkan mobilnya dan kembali ke dermaga dengan sepeda motor oleh pegawai pondok.  Petualangan di mulai!  Tujuan pertama kami adalah Pulau Kelelawar. Sesampainya disana, kami di buat tercengang dengan begitu banyaknya kelelawar yang bertengger di pepohonan sepanjang pulau itu.  Kami membuat suara-suara untuk mebangunkan mereka.  Ternyata mereka sangat sensitif terhadap suara, walaupuna tertidur puas.  Segera kebisingan mengusik suasana sepi yang tadinya menyelimuti.  Suara-suara kelelawar yang panik memenuhi daerah itu.  Ada terbersit penyesalanku bahwa kami dengan teganya mengusik tidur mereka, mengingat pasti tadi malam mereka “begadang” untuk mencari makanan, diam-diam di dalam hati aku meminta maaf pada kelelewar-kelelawar yang beterbangan dengan riuhnya.  Pemandangan yang mengasyikkan.  Banyak di antara mereka yang terbang dengan membawa bayinya yang menempel erat di perut bundanya.  Setelah puas melihat dan berfoto, kami meninggalkan tempat itu untuk menuju pada lokasi taman laut.

Lokasi taman laut berada di tengah antara pulau. Kapal boat yang kami tumpangi berhenti dan mulailah kami mempersiapkan peralatan snorkling.  Dengan kadar keasinan yang tinggi, kami hanya cukup mengapung sambil menikmati keindahan taman lautnya.  Banyak ikan-ikan kecil yang beraneka warna berenang bermain bersama kami.  Golden fish bergerombol berenang dengan riang.  Pemandangan yang sungguh menyenangkan dan tidak puas rasanya melihat tumbuhan laut, karang laut dan juga bintang laut yang berwarna biru tua. Indah betul pemandangan bawah lautnya.

Setelah puas berenang dan mengapung dengan snorkle yang terpasang, kami melanjutkan kepulau kecil yang tidak berpenghuni untuk berenang dan makan siang.  Air asin bening yang menyegarkan.  Seharian aku tiduran di pantai, berenang pada saat kepanasan.  Seakan pulau yang sepi itu milik kami.  Sementara saya melakukan kegiatan bermain di pantai, nelayan yang mengantar kami, keponakannya, supir kami dan Vincent rebah tertidur di gazebo-gazebo yang disediakan untuk pengunjung.  Belum pernah aku mendatangi pulau yang tidak sepi dan seakan-akan menjadi milik kami.   Tidak terasa, hari telah menjelang siang. Langit mulai mendung, segera kami pergi meninggalkan pulau berpasir putih yang indah untuk kembali ke perkampungan nelayan.  Aku berkeinginan apabila ada kesempatan kembali ketanah Flores, Riung akan menjadi destinasi yang harus untukku.  Aku jatuh cinta padanya. mungkin karena ketenangan airnya, sepi yang damai, laut yang bersahabatnya.  Mungkin karena orang-orangnya.  Mungkin juga aku terbawa suasana pada hari itu.

Saya berpikiran untuk menginap lagi, karena takut supirnya akan kecapaian setelah seharian berada di laut, namun dia meyakinkan kami bahwa dia dalam kondisi yang prima, sehingga kami memutuskan untuk meninggalkan Riung untuk kembali ke Ende.

Dalam perjalanan kami makan sore di Mbay, di rumah makan Padang yang sederhana.  Hanya cukup untuk mengisi perut, karena kami tidak mau kelaparan mengingat lama perjalanan yang panjang.  Perjalanan ke Ende tanpa dapat menikmati pemandangan lagi karena hari telah berangsur sore dan gelap. Sampai di Ende sudah malam, segera kembali kekamar dan beristirahat.

Keesokan harinya, saya berada di Ende (baca posting Ende). Tinggal semalam di Ende dan tibalah waktunya meninggalkan pulau Flores yang begitu indah bagaikan bunga.  Beresin koper dan bawaan, say goodbye to everyone there, menuju ke bandara yang letaknya begitu dekat dengan tempatku menginap dan terbang menjauhi Ende, Flores…..kembali pada kenyataan hidup. Selamat tinggal Flores, terima kasih atas segala keindahan dan pengalaman bersama.  Tidak terasa 10 hari bersama di Flores, begitu cepat waktu berlalu, begitu laju hari berganti…..

Oleh: connie lianto | Januari 5, 2008

M O N I

397_9785.jpg

Perjalanan dari Ende ke Moni memakan waktu sekitar 1,5 jam. Jalan berkelok-kelok, pemandangan indah, dikelilingi bukit, lembah dan juga melewati sungai bebatuan yang airnya seperti air sabun (maaf, tidak tahu nama sungainya). 

Sebelum berhenti di Moni, kami melanjutkan perjalanan ke Jopu dulu, sempat melihat rumah asli Jopu dengan atap ilalang yang tinggi. Jalan yang tidak begitu bagus, agak bebatuan. Sampai kembali ke Moni sore hari, karena di Jopu dan sekitarnya sempat berkunjung kesalah satu rumah kenalan.  Kami di undang makan siang di rumahnya dan beramah tamah. Pada saat kami pamit, mereka memberikan syal tenun ikat sebagai tanda mata. Ternyaata itu adalah kebiasaan disana pada saat bertamu untuk pertama kali. Moni adalah desa kecil yang hanya terdiri dari satu jalan dan banyak penduduk yang mengusahakan homestay. Di Moni ada satu hotel namanya Sao Wisata Bungalow yang terletak di luar Moni dan berada di bukit. Pemandangan yang sungguh indah, namun kelihatannya kurang terawat baik.  Kami tadinya akan menginap di sana, namun yang menjaga tidak ada di tempat. Hotel dibiarkan kosong (kelihatannya memang daerah Moni begitu aman tenteram), karena receptionistnya ke daerah lain untuk mencari komponen untuk mesin diesel yang rusak.  Kami batal menginap disana dan kemudian menuju ke Hotel Flores Sareh. Tempat tidur yang bersih, kamar besar juga kamar mandinya. Namun sayangnya tidak ada pemandangan.  Menjelang sore hari, kami diinformasikan sebentar lagi akan mati lampu sampai dengan jam 10, pemutusan listrik bergantian oleh PLN. Maka kami diberikan lilin.  Untungnya kami sudah siap dengan senter masing-masing. Cuaca saat kami berada disana mendung dan sempat hujan.  Suasana pedesaan benar-benar terasa. Keadaan sesudah hujan begitu saya nikmati, walaupun keadaan hati sedang kacau galau.  Pada pukul 7 malam, kami makan malam berupa bihun goreng di restoran hotel tersebut.  Masakannya lumayan, udara agak sejuk, sehingga teh menjadi pilihan kami untuk sekedar menghangatkan tubuh.  Ternyata pada saat makan malam ada tambahan beberapa turis asing dengan guidenya masing-masing.  Semua dari mereka menyewa mobil beserta supir dan guide.  Sesudah makan malam kami saling menyapa dan akhirnya mengobrol dengan asyik tentang turis spot yang ada di daerah flores. Sesudah cukup malam, kami pamit kembali kekamar, minum bir dan tidur, karena keesokan harinya, harus bangun jam 4 untuk menuju ke Kelimutu.  Mobil yang kami sewa akan datang pada jam tersebut. 

 

Oleh: connie lianto | Januari 3, 2008

ENDE



Bridge in Traditional Village of Ende Lio, outside of Ende.

Kami berhenti untuk makan siang di Aimere, perkampungan nelayan yang berada di tengah antara Ruteng dan Ende. Rumah makan Padang. Setelah menempuh perjalanan yang panjang dengan bis Gunung Mas, tanpa AC, sampailah kami di terminal bis Ndao, Ende. Di jemput oleh mobil seorang teman, kami menyempatkan diri berkeliling kota Ende. Melewati pohon sukun yang merupakan media inspirasi lahirnya Pancasila oleh Bung Karno, ke tengah kota yang terdiri dari jajaran toko, tampak lengang karena hari telah sore, semua toko sudah tutup. Lalu kami ke Pelabuhan Ipi yang terkenal dengan kapal karam yang membawa puluhan mobil dan sampai sekarang kapal itu tidak dapat di angkat. Sehingga pelabuhan itu nyaris tidak beraktivitas. Kami menuju tempat menginap di Jalan Wirajaya. Setelah makan malam, istirahat karena perjalanan yang melelahkan.

Kami sempat ke pasar, karena pada hari itu adalah hari pasar, maka begitu ramai pasar dikunjungi orang, berbagai macam buah, sayuran, ikan dan segala kebutuhan rumah tangga ditawarkan.  Mereka berjualan dengan menyusun dagangannya rapi dan dikelompokkan. Masing-masing kelompok 5 buah/ekor.  Banyak diantara mereka yang berjualan di pinggir jalan dengan menggelar dagangannya di bahu jalan. Suasana ramai dan hiruk pikuk, serta panas yang menyengat menambah semangat tawar menawar yang terjadi diantara pedagang dan pembeli.  Suasaana pasar tradisional terasa sangat kental.  Saya membeli jagung titi yang terkenal, hanya daerah Larantuka yang memproduksi jagung titi ini. Maka pedagang Ende harus meng”import” jagung titi itu dari daerah tersebut.  Proses pembuatan jagung, menurut orang yang memberikan informasi adalah dengan cara setiap butir jagung di pukul dan dilempengkan seperti emping kecil. Cara makan dapat hanya di rendam dengan air panas dan kemudian dimasukkan kacang kedalamnya.  ataupun di goreng. Saya lebih memilih di goreng saja.

Dari pasar kami mengunjungi desa tradisional, Ende Lio yang terletak di atas bukit, di luar kota Ende, dimana bisa memandang kota Ende di kejauhan.  Melewati pantai pasir hitam, sungai yang tidak berjembatan, untungnya dangkal. Perkampungan traditional itu terdiri dari 2 rumah adat asli, berbentuk rumah panggung yang mencolok keluar di jurang yang di tata rapi dengan batu kali.  Penyangga dari rumah panggung adat itu dari tiang kayu yang tidak begitu besar diameternya, batu lancip, semacam batu Menhir yang kecil, mengingatkanku pada Stonehenge di Inggris.  Rumah adat terbuat dari kombinasi bahan kayu semacam kayu besi di Kalimantan dan Kayu pohon kelapa.  Untuk masuk kerumah adat, haruslah mendapat ijin dari Bapak Tua yang kepala adat disana.  Kami duduk di ruangan tengah, yang merupakan sentral dari rumah itu.  Di dalam rumah itu terdapat 6 tungku dari batu dan kamar-kamar.  Disitu tinggal 12 keluarga.  Ruangan tengah yang kami duduki bersama ketua adat dan penghuni lainnya adalah area dimana hanya orang keturunan langsung yang dapat menginjak lantai bambu ruangan itu.  Pertalian karena perkawinan tidak boleh menginjakkan kaki mereka kesana.  Kalau mereka melanggar maka tulah akan menimpa mereka, seperti sakit perut, dsb. Maka mereka yang hanya terikat karena perkawinan hanya boleh berada di “luar arena” duduk di atas pagar pembatas ruangan dari kayu yang tidak terlalu tinggi. Unik sekali tata cara adat mereka.  Simetris dengan pintu utama rumah adat itu, terletak satu gading yang cukup besar di atas batu-batu kali.  Kami di larang menginjak batu-batu itu, karena dipercaya bahwa batu-batu kali itu adalah tempat arwah-arwah nenek moyang mereka.  Sayangnya, mereka tidak dapat menceritakan sudah berapa tahun rumah adat ini berdiri.  Walaupun semua dari mereka memeluk agama katolik, namun tata adat masih di pegang teguh.  Sehingga ada perpaduan yang manis antara agama dan adat.  Di setiap pekarangan rumah disana ada meja dari batu yang saya sinyalir sebagai tempat pemujaan terhadap arwah nenek moyang pada waktu tertentu.  

Di kedua sisi tembok kayu yang mengapit pintu utama terdapat dua ukiran buah dada yang berlainan. Simbol dari buah dada ternyata bukanlah pornografi, namun menunjukkan betapa orang Flores menghargainya sebagai sumber kehidupan manusia.  Di sisi kanan adalah buah dada seorang perempuan yang sudah tua, sedangkan di sisi kiri adalah buah dada dari wanita yang masih muda.  Tidak ada kesan tabu, namun semuanya begitu transparan.  Maka menunjukkan sifat dari orang Flores yang begitu terus terang.

Di beranda rumah panggung itu terlihat beberapa perempuan sedang menenun. Hasil tenunan untuk upacara adat dan di jual kepada turis yang datang berkunjung. Mereka hidup dalam kemiskinan, dengan anak paling sedikit 4 orang. Namun mereka begitu ceria menerima kami, dengan meninggalkan pekerjaan yang baru mereka kerjakan. Berlomba-lomba menceritakan pada kami adat istiadat mereka dengan bangga. Sungguh orang Flores adalah orang-orang yang ramah.

Oleh: connie lianto | Januari 3, 2008

RUTENG


RUTENG

Originally uploaded by V3ist

Kami meninggalkan Labuan Bajo Jam 08.00 pagi, mampir sekitar satu jam di Batu Cermin. Sampai di Ruteng jam 16.00. Pemandangan sepanjang jalan indah dengan lembah, ngarai dan kadang juga membuat hati berdegub, pada saat berpapasan dengan kendaraan lainnya d tikungan tajam. Juga melintasi jurang. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk melihat sawah yang berbentuk seperti sarang laba-laba. Unik dan belum pernah kami lihat di berbagai tempat yang pernah dikunjungi.

Ruteng adalah kota yang sejuk, air pegunungan yang segar dan bersih, serta berkelimpahan. Kotanya bersih. Sebuah kota yang unik yang terdiri dari puluhan rumah biara Katolik, baik biara suster ataupun bruder, bahkan banyak dijumpai suster dari luar negeri yang berkarya disana.

Kami menginap semalam disana, beberapa teman mengantar kami ke desa traditonal Ruteng yang terletak tidak jauh dari tengah kota. Kami juga di ajak ke gereja suster (maaf lupa ordonya) kontemplatif yang terbuka 24jam untuk devosi Sakramen Maha Kudus Yesus. Gereja yang bersih dan besar, terletak di luar kota Ruteng mempunyai plafon yang begitu indah, terbuat dari potongan kayu-kayu list yang disusun sedemikian rupa. Dari gereja itu, yang terletak di bukit, kami meneruskan perjalanan, sehingga dapat melihat kota Ruteng dari atas bukit. Perumahan disana sarat dengan tanaman bunga yang indah dari berbagai jenis. Menambah kesejukan sekitarnya. Tengah kota Ruteng lumayan ramai, dengan ada satu departement store lokal (saya lupa namanya). Kami kemudian berkunjung ke rumah bruderan yang begitu luas, terdapat sekolah teknik, juga ruangan-ruangan biasa disewa oleh pemerintah dan masyarakat sekitar apabila ada kegiatan-kegiatan dinas, seminar dan lainnya.

Perbedaan cuaca yang begitu mencolok antara Labuan Bajo dan Ruteng. Labuan Bajo begitu panas dan kekurangan air, sedangkan Ruteng dengan hawanya yang sejuk dan air yang berlebihan sungguh membuat kami menikmati keadaan disana.

Oleh: connie lianto | Januari 3, 2008

LABUAN BAJO


LABUAN BAJO

Originally uploaded by V3ist

Memulai perjalanan ke Pulau Flores dari Yogyakarta ke Denpasar dengan Mandala Air pada tanggal 10 Desember 2007. Kami memutuskan untuk menghabiskan 2 malam di Bali sebelum melanjutkan ke Labuan Bajo sebagai entry point di Pulau Flores.

Lama penerbangan dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar adalah 1 jam. Dengan pesawat Fokker-50 dari Maskapai PT. Indonesia Air Transport. Pertama kali melihat jenis pesawat yang tergolong kecil(masih dengan propeller disisi kiri dan kanan), tempat duduk yang sempit, segalanya serba kecil di cabin, sempat membuat hati berdegub. Seat di pesawat dari bahan kulit, membuat agak nyaman, walaupun sempit. Kami mendapat nomer tempat duduk 4A&B, persis di propeller. Pesawat dijadwal jam 10.00 pagi. Deru mesin pesawat yang berisik menemani kami selama perjalanan. Didalam pesawat kami disuguhi dus makanan yang berisi snack dan air minum mineral. Cuaca hari itu terang dan matahari bersinar. Hari yang bagus untuk memulai petualangan di Flores.

Sampai di Labuan Bajo sekitar jam 11.45, karena waktu di Denpasar ada sedikit keterlambatan dan menunggu giliran take off. Bandara di Labuan Bajo masih baru, kecil dan kosong. Panas matahari segera menyengat kulit. Tidak ada porter ataupun kereta untuk koper, ataupun belt untuk bagasi. Segalanya manual. Karyawan airlines harus mendorong kereta yang membawa bagasi secara manual dan mendekatkannya pada gedung bandara yang berjarak lumayan dekat, namun harus melewati tanah kosong, yang saya perkirakan nantinya untuk taman. Kereta bagasi di”parkir” di teras bandara yang letaknya lebih tinggi dari tanah. Dan mulailah mereka membongkar muatannya. Ternyata pertama kali yang dibongkar adalah kargo (?). Segera terjadi keruwetan. Penumpang segera mengerubungi barang-barang yang dibongkar. masing-masing berlomba mengambil bagasinya. Barang bawaan kami lumayan banyak, karena teman saya sekalian pindah ke Ende. Kacaunya, tidak tersedia trolley. Agak bingung bagaimana mengangkat semua itu dengan 4 tangan yang kami miliki. Untunglah supir yang menjemput kami dapat masuk ke ruang baggage claim dan membantu kami membawakan. Dibalik pintu dan jendela kaca berjejer begitu banyak penjemput yang telah menunggu. Kami sempat kewalahan mencari jalan menuju ke mobil yang telah menunggu, karena berjubelnya penjemput. FYI, sepertinya harus punya kenalan untuk menjemput di bandara tersebut, karena saya tidak melihat adanya taksi bandara yang dapat ditumpangi, walaupun letak bandara tidaklah terlalu jauh dari pusat kota.

Kami makan siang di tempat menginap di Kampung Ujung. Letaknya dekat dengan pelabuhan. Setelah makan siang, kami memutuskan untuk berjalan-jalan melihat keadaan di pelabuhan. Indah sekali dengan pulau-pulau yang terlihat oleh pandangan mata, ada bukit yang mengelilingi. Kapal nelayan, yacht, juga kapal PELNI bersandar di tempatnya masing-masing. Udara menjelang sore terasa agak sejuk dibandingkan dengan siang tadi. Sempat berhenti di warung untuk membeli coca cola dan sandal jepit. Kami menyelusuri jalan yang belum selesai dibangun, menaiki bukit, melintasi rumah-rumah penduduk yang berada dibawah bukit, yang semuanya terdiri dari rumah panggung, tanpa kami sadari, sampailah kami pada restoran Paradise, pernah kubaca di internet. Sayangnya sampai disana hujan gerimis, kami memesan kopi, teh dan supermi goreng. Sayangnya supermi goreng begitu asin. Menjelang sore kami kembali ke tempat kami menginap, dengan agak menyesal karena tidak berhasil untuk melihat sunset yang terkenal indah dipandang dari Restoran Paradise yang berada di atas bukit.

Keesokan harinya dengan menyewa perahu nelayan, kami pergi menjelajahi pulau Rinca, yang terdapat komodonya, Pulau Seraya yang ada pondok untuk menginap, Pulau Batu Gosok yang ada resortnya, Pulau Bidadari yang terkenal dengan pasir putih dan laut birunya. Berenang, snorkling dan sun tanning di buritan kapal yang cukup besar. Makan siang telor ceplok dan nasi putih yang enak dalam perjalanan. Puas dengan keindahannya. Kami pulang sempat melihat sunset dari tempat kami menginap. Walaupun tidak ke restoran Paradise lagi, namun sunset yang menimbulkan berbagai warna di langit membuat kami terdiam menatap keindahan itu.

Keesokannya, kami sarapan dan bersiap untuk meninggalkan Labuan Bajo menuju Ruteng. Rencana ingin menggunakan Labuan Bajo Express, jasa travel, namun schedulenya jam 13,00. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa mobil Panther ke Ruteng. Perjalanan diperkirakan sekitar 5jam.

Dalam perjalanan ke Ruteng, kami sempat juga singgah di batu cermin, yang merupakan dasar laut pada jaman dahulu, sehingga gua yang lumayan besar terdiri dari batu karang, fosil ikan, kura-kura dan membentuk kristal yang bersinar apabila terkena cahaya. Namun karena keindahan itu belum tersentuh oleh modernisasi, sehingga kami harus menaiki tangga kayu yang darurat dan terkesan seadanya, paku yang sudah hampir lepas, keadaan gua yang gelap, senter sangat diperlukan, di tengah gua yang pekat gelap, hidup kelelawar. Ada rasa merinding juga, mungkin karena gelapnya. Kami masuk ke gua di antar oleh Rangernya. Untuk masuk ke gua itu harus membayar retribusi sebesar 15ribu rupiah per orang.

Jalan menuju Ruteng berkelok-kelok, melewati hutan, ngarai dan lembah, pemandangan bukit hijau. Kadang jalan berlubang, dengan belokan-belokan tajam, pada saat berpapasan dengan mobil, bis ataupun truk begitu sempit, seringkali kami harus mundur untuk memberi jalan kepada mereka. Driving skill dan intuisi tajam diperlukan dalam mengendarai mobil disini. Lamanya perjalanan dikarenakan kendaraan tidak dapat melaju karena kondisi jalan yang berkelok-kelok setiap saat, membelah bukit dan gunung. Pemandangan begitu indahnya. WOW!!!

Oleh: connie lianto | Januari 3, 2008

FLORES


Flores island, NTT

Originally uploaded by V3ist

Pulau Flores yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur, dengan mayoritas pemeluk agama Katolik adalah merupakan “hidden treasure” Indonesia. Keindahan alam, pantai, bawah laut merupakan kekayaan tersendiri yang patut dibanggakan, dengan di dukung oleh keramahan penduduknya, adat istiadat yang unik, kain tenun ikat yang menjadi salah satu kegiatan sehari-hari perempuan dewasa di sana, jagung titi yang begitu enak.

Sayangnya, keindahan dan keunikan pulau ini tidak di dukung oleh infrastruktur yang baik (seringnya terjadi longsor, jalan yang berlubang), rumah makan/restoran yang memadai, hotel yang baik, transportasi umum, baik lewat udara ataupun darat yang baik, bandara yang belum siap dalam menyambut kedatangan turis lokal maupun mancanegara. Hotel yang hanya kategori Losmen/homestay yang agak terlalu mahal dibandingkan dengan kota lain di Jawa. Oleh sebab itu memerlukan biaya yang cukup mahal untuk dapat menikmati “hidden treassure” tersebut.

Namun, terlepas dari tingginya biaya yang harus dikeluarkan, perjalanan darat yang lama, beserta segala kekurangan dalam bereksploitasi pulau itu, terobati dengan keindahan gunung, lembah, laut dan pantai yang mengelilingi dan menjadi santapan mata yang tidak ada habisnya. Dan hanya mampu terucap “WOW” dan “WOW”, tidak ada kata yang cocok untuk mengungkapkan keindahan ciptaan Tuhan yang begitu agung, unik dan indah.

Kategori